Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh
Nabi Muhammad .صلى الله عليه وسلم, sebagaimana kita semua tahu, hidup empat belas abad yang lampau. Catatan-catatan sejarah memperlihatkan bahwa, tatkala al-Qur’an diwahyukan, masyarakat Arab tidak memiliki teknologi yang memungkinkan mereka untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang dunia ini atau alam semesta. Dengan demikian, terdapat suatu perbedaan yang signifikan antara tingkat sains dan teknologi pada waktu itu, tatkala Nabi Muhammad masih hidup, dengan zaman kita. Sesungguhnya, perbedaan ini terus berjalan pada awal mula abad ke-20 dan ke-21. Sebuah bukti yang gamblang tentang ini adalah bahwa segelintir penemuan teknologi yang namanya tak dapat disebutkan hanya beberapa dekade yang lalu telah menjadi unsur-unsur yang sangat dibutuhkan pada kehidupan kita saat ini.
Meskipun adanya perbedaan-perbedaan yang sangat banyak ini, pada abad ke-7, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلمh memberitahukan sejumlah kebenaran mengenai masa depan. Dalam halaman-halaman berikut, kita akan menelaah hadis-hadis yang menggambarkan tingkat pengetahuan ilmiah dan teknologi Akhir Zaman. Kita akan melihat bahwa apa yang dibicarakan oleh Nabi Muhammad empat belas abad yang lalu sedang menjadi kenyataan pada zaman kita.
Teknologi Kedokteran:
Pada saat itu … usia hidup akan makin bertambah panjang.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazha
Empat belas abad telah berlalu semenjak Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyampaikan kata-kata ini. Catatan-catatan yang tersimpan mengenai beberapa tahun terakhir ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa rata-rata harapan hidup pada zaman kita jauh lebih besar daripada pada setiap awal abad sebelumnya. Bahkan, sudah ada suatu perbedaan yang besar sekali antara awal dan akhir abad ke-20. Misalnya, seseorang yang lahir pada tahun 1995 dapat berharap untuk hidup lebih lama 35 tahun daripada seseorang yang lahir pada tahun 1900.
Sebuah contoh lain yang mencolok tentang hal ini adalah, pada masa lalu, jarang orang yang berusia hingga 100 tahun; pada hari ini banyak orang yang mencapai usia tersebut.
Menurut United Nations Department of National Population, selama beberapa tahun terakhir ini, populasi dunia terus mengalami transisi yang luar biasa dari suatu tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi ke tingkat kelahiran dan kematian yang rendah. Substansi dari transisi ini adalah pertumbuhan dalam jumlah dan proporsi orang-orang yang lebih tua. Peningkatan yang cepat, besar, dan amat bisa dirasakan ini tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah peradaban.
Meningkatnya harapan hidup ini tentunya memiliki suatu sebab. Kemajuan layanan kesehatan yang merupakan konsekuensi dari kemajuan teknologi kedokteran telah memungkinkan situasi yang demikian. Di samping itu, perkembangan perkembangan dalam ilmu genetika dan pesatnya kemajuan Proyek Gen Manusia (Human Genome Project) segera mengawali lahirnya sebuah era yang sama sekali baru di bidang kesehatan. Kemajuan-kemajuan ini merupakan proporsi yang oleh orang-orang yang hidup pada masa-masa terdahulu tak pernah terbayangkan. Berdasarkan pada semua perkembangan ini, kita dapat mengatakan bahwa orang-orang yang hidup pada zaman kita telah mencapai hidup yang panjang dan sehat seperti digambarkan dalam hadis di atas.
1400 tahun silam Nabi صلى الله عليه وسلم telah membicarakan kemajuan-kemajuan dibidang sains yang disebutkan diatas.
Pendidikan:
Sebuah perbedaan signifikan yang membedakan abad ke20 dan ke-21 dengan abad-abad sebelumnya adalah majunya kemampuan baca tulis. Pada masa-masa yang lebih awal, kemampuan baca tulis hanya dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki status istimewa, sedangkan, menjelang akhir abad ke-20, UNESCO dan organisasi-organisasi pemerintah dan swasta lainnya, telah menyelenggarakan kampanye-kampanye di seantero dunia untuk melawan kecenderungan ini. Mobilisasi sumber-sumber daya pendidikan ini, dengan bantuan penemuan-penemuan teknologi dan layanan-layanan kemanusiaan, telah membuahkan hasil pada zaman kita. Menurut sebuah laporan dari UNESCO, rata-rata tingkat kemampuan baca tulis pada tahun 1997 adalah 77,4%.21
Angka ini tentu saja adalah yang tertinggi dalam 14 abad. Pada saat yang sama, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menggambarkan masyarakat pada Akhir Zaman dalam hadis beliau:
Kemampuan baca tulis akan meningkat — tatkala Pengadilan semakin dekat.
(Ahmad Dhiya’ ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits)
Melalui media proyek-proyek dapat terwujud dengan teknologi baru, taraf kemampuan baca-tulis sekarang ini meningkat pada angka rata-rata 80%.
Waktu dimana kita hidup di dalamnya, dengan bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi, dan perlombaan dalam mengembangkan teknologi bangunan gedung, telah diungkapkan dalam hadis 14 abad yang lalu.
Teknologi Konstruksi:
Suatu tanda kemajuan teknologi pada abad di mana kita hidup dan, yang mana Nabi Muhammadصلى الله عليه وسلم telah menyebutkannya adalah dibangunnya gedung-gedung yang tinggi.
Tidak akan ada [Hari] Pengadilan — hingga gedung-gedung yang sangat tinggi dibangun.
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
As-Sa‘ah (Hari Kiamat) tidak akan tiba hingga manusia berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.
(HR. Bukhari)
Bila kita tilik sejarah arsitektur dan teknik, kita lihat bahwa gedung-gedung berlantai banyak mulai dibangun hanya menjelang akhir abad ke-19. Perkembangan-perkembangan teknologi, meningkatnya penggunaan baja dan lift mempercepat laju pembangunan struktur-struktur yang disebut pencakar langit. Pencakar langit telah menjadi sebuah bagian penting dari arsitektur abad ke-20 dan ke-21, dan pada hari ini telah menjadi sebuah lambang prestise. Apa yang dikatakan oleh hadis tadi telah menjadi kenyataan: manusia memang telah berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung tinggi, dan bangsa-bangsa pun saling berlomba-lomba dalam membangun pencakar langit tertinggi.
Teknologi Transportasi:
Di sepanjang sejarah sudah ada suatu hubungan langsung antara kekayaan dan kekuatan rakyatnya dengan teknologi transportasinya. Masyarakat-masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengadakan sistem transportasi yang efektif dapat meningkatkan taraf kemajuan mereka.
Berbicara tentang karakteristik-karakteristik Akhir Zaman, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda mengenai perkembangan transportasi:
Hari Akhir tidak akan tiba hingga ... waktu berjalan dengan cepatnya.(HR. Bukhari)
Jarak-jarak yang sangat jauh akan dilintasi dengan waktu singkat.(H.r. Ahmad, Musnad)
Pesan dari hadis di atas cukup jelas. Pada Akhir Zaman, jarak-jarak yang sangat jauh akan ditempuh dalam waktu yang singkat oleh kendaraan-kendaraan baru. Pada zaman kita, pesawat terbang supersonik, kereta api dan kendaraan-kendaraan canggih lainnya dapat, dalam sekian jam saja, melintasi jarak yang dulunya ditempuh selama berbulan-bulan, dan melakukannya dengan lebih mudah, nyaman, dan aman. Dalam hal ini, isyarat yang diriwayatkan dalam hadis tadi telah menjadi kenyataan.
Pada abad ke-20 dan 21, teknologi benar-benar telah sampai pada tingkat yang canggih. Khususnya di bidang teknologi transportasi, arsitektur, dan bidang-bidang permesinan, perkembangan-perkembangan yang menakjubkan telah tercapai.
Al-Qur’an menyebutkan kendaraan-kendaraan yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi modern:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan(menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.s. an-Nahl: 8).
Di sini, kita dapat memikirkan dengan mendalam makna ungkapan “waktu akan berjalan dengan cepat” dalam hadis pertama, dari sudut pandang apa yang telah kami ceritakan. Jelaslah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pada waktu Akhir Zaman, tugas-tugas akan dirampungkan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan kurun-kurun waktu lainnya. Sungguh, kemajuan-kemajuan dalam sains telah memungkinkan adanya peluang bagi hampir semua hal untuk diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat dan dengan hasil yang jauh lebih baik. Sebuah hadis serupa menguatkan pandangan ini:
Saat Akhir tidak akan tiba sebelum waktu menyusut, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan nyala lilin.
(HR. Tirmizi)
Misalnya, berabad-abad yang lalu, komunikasi internasional, yang lamanya sampai berminggu-minggu, kini dapat ditempuh dalam hitungan detik saja dengan menggunakan Internet dan teknologi komunikasi modern lainnya. Pada masa lalu, barang-barang yang dulunya sampai ke tujuan setelah menempuh perjalanan selama berbulan-bulan dalam kafilah-kafilah, kini dapat dikirim dengan cepat. Pada hari ini, jutaan buku dapat diterbitkan dalam waktu yang beberapa abad yang lalu hanya dapat untuk menghasilkan satu buah buku saja. Hal-hal sehari-hari sudah begitu saja menjadi hal yang lazim, seperti kebersihan, cara-cara penyajian makanan, dan keperluan untuk perawatan anak-anak, sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu berkat adanya keajaiban-keajaiban teknologi modern.
Kita dengan mudah dapat memberikan sekian banyak contoh seperti itu. Akan tetapi, yang harus kita pikirkan dengan mendalam di sini adalah tanda-tanda yang diberitahukan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pada abad ke-7 dulu yang kini sedang menjadi kenyataan.
Tanda lainnya lagi dari Akhir Zaman yang diberitahukan dalam hadis-hadis adalah tersebar luasnya perdagangan (Diriwayatkan oleh Ibnu Masud raddiallahu'anhum.)
yang seiring dengan kemajuan-kemajuan di bidang transportasi. Transportasi-transportasi modern telah memungkinkan tiap negeri di dunia ini untuk melakukan hubungan perdagangan yang erat dengan negeri-negeri lainnya.
Teknologi Komunikasi:
Sebagian dari informasi paling menarik yang diberitakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم terdapat dalam hadis beliau yang menggambarkan teknologi komunikasi di masa modern. Salah satu hal yang beliau katakan cukup mencengangkan:
Hari Akhir tak akan tiba sebelum seseorang berbicara dengan gagang cambuknya.
(HR. Tirmizi)
Bila kita lihat hadis ini dengan lebih dekat lagi, kita dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, pada zaman dulu, cambuk dipakai secara luas untuk menaiki hewan-hewan tunggangan, khususnya onta dan kuda. Manakala kita telaah hadis ini kita pun melihat bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sedang membuat sebuah perbandingan.
Mari kita tanyakan kepada orang-orang pada zaman sekarang: “Benda berbicara apa yang dapat kita perbandingkan dengan bentuk sebuah cambuk?” Jawaban yang paling mendekati atas pertanyaan ini adalah sebuah telepon genggam atau suatu perangkat komunikasi lainnya yang serupa itu. Bila kita ingat-ingat, perangkat komunikasi nirkabel, seperti telepon genggam atau telepon satelit, adalah perkembangan yang baru-baru ini terjadi, maka kita akan paham betapa futuristiknya gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم 14 abad yang lalu. Maka, ini adalah satu lagi pemberitahuan akan waktu sebelum Hari Pengadilan di mana kita hidup di dalamnya.
Teknologi, yang dapat menyampaikan atau memindahkan suara dan gambar dalam jarak ribuan kilometer dengan begitu gampang dan menakjubkan, menunjukkan kesamaan yang amat menarik dengan pesan yang disebutkan di dalam hadis.
Dalam riwayat lainnya dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beliau menyoroti perkembangan teknologi komunikasi:
Tak ada Hari Pengadilan ... hingga seseorang berbicara dengan suaranya sendiri.
(Mukhtashar Tadzkirah karya Qurthubi)
Pesan dalam hadis ini sudah cukup jelas: ia menyatakan bahwa seseorang mendengar suaranya sendiri merupakan sebuah karakteristik Akhir Zaman. Tentu saja, bagi seseorang agar dapat mendengar suaranya sendiri, pertama-tama suara itu harus direkam dan kemudian didengarkan. Teknologi rekaman dan reproduksi suara adalah produk-produk dari abad ke-20. Perkembangan ini merupakan titik balik dari kemajuan sains, salah satunya yang memungkinkan lahirnya industri-industri yang bergerak di bidang komunikasi dan media. Rekaman suara kini sudah mencapai titik puncaknya, dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam komputer dan teknologi laser.
Pendeknya, perangkat-perangkat elektronik pada hari ini, seperti mikrofon dan pengeras suara, telah memungkinkan untuk merekam dan mendengar suara seseorang, yang menunjukkan bahwa apa yang disebutkan dalam hadis di atas kepada kita telah menjadi kenyataan.
Apa yang dikatakan dalam hadis-hadis yang menggambarkan Akhir Zaman mengenai teknologi komunikasi tidak terbatas pada hadis yang dikutip di atas saja. Masih ada tandatanda lain yang sangat menarik dalam hadis-hadis lainnya:
Tanda hari itu: Sebuah tangan akan menjulur dari langit, dan orang-orang akan menyaksikannya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)
Melalui sarana satelit, segala macam siaran dapat dikirim secara langsung ke tujuan. Fakta bahwa Nabi Muhammad pernah memprediksikan perihal kemampuan seperti ini 1.400 tahun yang lalu adalah salah satu tanda yang lain.
Tanda hari itu adalah sebuah tangan menjulur di langit dan orang-orang pun berhenti untuk melihatnya.
(Al-Muttaqi al-Hindi, ‘Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)
Jelaslah bahwa kata “tangan” dalam hadis di atas merupakan kiasan. Pada zaman dahulu, sebuah tangan yang dijulurkan dari langit dan orang-orang menyaksikannya, sebagaimana tersebut dalam hadis tadi barangkali tidak begitu berarti bagi mereka. Namun bila kita mempertimbangkan teknologi pada hari ini, pernyataan tadi dapat ditafsirkan dengan sejumlah cara. Misalnya, televisi, yang kini sudah menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari dunia ini, dan ia, beserta dengan kamera dan komputer, dapat menjelaskan dengan sangat baik apa yang digambarkan oleh hadis tadi. Kata “tangan” yang disebut dalam hadis itu mungkin saja dipakai untuk mengiaskan kekuasaan. Bisa dipakai untuk menyebut gambar-gambar yang muncul dari langit dalam bentuk gelombang, yaitu, televisi.
Beberapa contoh lain yang relevan juga sangat menarik:
Suatu suara yang memanggil namanya … dan bahkan orang-orang di timur dan barat akan mendengarnya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)
Suara ini akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan setiap suku bangsa akan mendengarnya dalam bahasa mereka.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)
Sebuah suara dari langit yang mana setiap orang akan mendengarnya dalam bahasa mereka sendiri-sendiri.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)
Hadis ini menyebutkan sebuah suara yang akan terdengar ke seluruh penjuru dunia dan dalam bahasa setiap orang masing-masing. Jelaslah, yang dimaksud adalah radio, televisi, dan metode-metode komunikasi lainnya yang semacam itu. Adalah sebuah keajaiban bahwa, 1.400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم memberi isyarat suatu perkembangan yang bahkan tak terbayangkan pada seratus tahun yang lalu.
Tatkala Badiuzzaman Said Nursi menafsirkan hadis-hadis ini, beliau menerangkan bahwa hadis-hadis ini secara menakjubkan meramalkan kemunculan radio, televisi, dan perang-kat-perangkat komunikasi lainnya yang semacam itu.
Mari Bershalawat Untuk Beliau :
Allahumma Shali Ala Muhammad wa ala alihi wabarrik wassalam
Di kutip dari:Kembang Anggrek
Blog ini buat Sahabat-sahabat semuanya... Mari bersama-sama Berbagi Ilmu juga Berbisnis... Siapapun boleh mengcopy Artikel dari Blog ini... jangan lupa sertakan juga URL Blog ini ya...thanks SEMOGA BERMANFAAT...
Rabu, 09 Februari 2011
Selasa, 08 Februari 2011
CATATAN BUKU SEORANG KYAI (SURPRISE dari ALLAH SWT)
Kisah perjalanan batin seorang ulama, melalui doa, rasa kecewa, takut, marah, khawatir, hingga mendapatkan hidayah, bahwa putri bungsunya yang progressive/agresive ternyata tetap dalam lindungan dan Jalannya Allah S.W.T.
Medan, 15 Juni 1975
Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan dengan janji Allah dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan'adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur...
1981 Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain.
1987 Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan...Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat kakakmu yang kalem dan cendrung memilik sifat-sifat perempuan, engkaujustru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun padaku dan selalu juara kelas.
Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.
Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku mengajar.
Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku.
Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak...
1993 Tahun ini engkau menamatkan SMAmu. Engaku tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota Kopassus datang mencarimu.
Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam...
Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami.
Dalam doa-doa malamku selalu kebermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu?
Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu...Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu,putriku..
Dan aku akan lebih bisa menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu.
1995 Tahun ini tidak akan pernah kulupan. Akan kucatat baik-baik...Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah S.W.T mendengar dan mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah! Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.
1997 Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang mendiami rumah ini.
Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.
Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu....
Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku...
1998 Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku...
Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yangengkau pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku...
1 Agustus 1999
Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.
Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka.
Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku.
Jika aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku. Putriku....kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu...Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku...
Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu.
Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren...
Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku...
Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin.
12 Agustus 1999
Rabbi, jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya Engkau..ya Mujib...
------0000-----
“Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar ...
Dalam dinding keterbatasan itu saya merasakan kedamaian”.
Semoga apa yang telah saya sampaikan ini ada manfaatnya,
Bila ada salah kata mohon dimaafkan yang benar itu pasti datangnya dari Allah S.W.T Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh
Dari : Shobat FB q Ahmad Suwarno
Selasa, 01 Februari 2011
AKU HANYALAH SEORANG HAMBA
Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.
Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan')
'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia."
"Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"
Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?".
Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.
Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ?
Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".
Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah" kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?
Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.
Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?"
Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib".
"Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?"
"Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi.
Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"
Penjabaran peringatan itu dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dengan sabdanya,
"Tidak ada sesuatu yang dipenuhkan oleh putra putri Adam lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga sisanya untuk pernafasannya (Diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi).
Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?"
Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.
Dari : Sahabat FB q Ahmad Suwarno
Cintai Allah
Cintailah Allah Cintailah Allah Cintailah Allah
Mencintai Allah pasti mencintai Rasulullah.
Mencintai Rasulullah pasti mencintai Allah.
Karena Rasulullah sangat mencintai Allah dan Allah sangat mencintai Rasulullah.
Rasulullah sangat taat dan patuh kepada Allah.
Tingkah laku adalah pancaran dari Qolbu.
Qolbu dan tingkah laku Rasulullah adalah Al Qur’an, dan Al Qur’an adalah firman Allah / tuntunan Allah terhadap hambaNya.
Bila seseorang mencintai yang dicintai, pasti dia akan taat, patuh dan mencontoh yang dicintai.
Maka taat, patuh dan contoh tingkah laku Rasulullah, berarti taat dan patuh kepada Alloh, dan pasti dicintai Allah dan Rosulullah.
Jangan menduakan cinta Alloh, karena Allah Maha Pencemburu (laa ilaaha illallah)
Jangan menduakan cinta Allah, Walaupun itu kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu, Keluargamu, saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.
Tapi berikan kasih sayang sebesar besarnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah (Al Qur’an & Al hadist) kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu , saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.
Segera minta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada Rasulullah, bila ada kesalahan didalam qolbu dan tingkah laku dikehidupan sehari hari. Dan segera memperbaiki kembali apa yang kita lakukan.
Mudahlah mengakui kesalahan dan minta maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau di cintai Allah.
Mudahlah memberi maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau mudah diampuni segala kesalahan oleh Allah.
Selalu ingat memuji Allah dan Rasullullah (shalawat) sehingga engkau selalu diingat dipuji oleh Allah dan Rasulullah.
Selalu minta tolong Allah dan bersyafa’at kepada Rasulullah dalam segala hal.
Pancarkanlah asma/nama Allah (asmaul husna), af’al Allah dan sifat Allah dengan Qolbu dan tingkah laku di kehidupanmu.
Semoga engkau dicintai oleh Allah dan Rosullullah.
Sumber: Tasawuf Noto Ati Noto Ati
Nurut Marang Gusti Allah lan Nurut Marang Sabdaning Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Mencintai Allah pasti mencintai Rasulullah.
Mencintai Rasulullah pasti mencintai Allah.
Karena Rasulullah sangat mencintai Allah dan Allah sangat mencintai Rasulullah.
Rasulullah sangat taat dan patuh kepada Allah.
Tingkah laku adalah pancaran dari Qolbu.
Qolbu dan tingkah laku Rasulullah adalah Al Qur’an, dan Al Qur’an adalah firman Allah / tuntunan Allah terhadap hambaNya.
Bila seseorang mencintai yang dicintai, pasti dia akan taat, patuh dan mencontoh yang dicintai.
Maka taat, patuh dan contoh tingkah laku Rasulullah, berarti taat dan patuh kepada Alloh, dan pasti dicintai Allah dan Rosulullah.
Jangan menduakan cinta Alloh, karena Allah Maha Pencemburu (laa ilaaha illallah)
Jangan menduakan cinta Allah, Walaupun itu kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu, Keluargamu, saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.
Tapi berikan kasih sayang sebesar besarnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah (Al Qur’an & Al hadist) kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu , saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.
Segera minta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada Rasulullah, bila ada kesalahan didalam qolbu dan tingkah laku dikehidupan sehari hari. Dan segera memperbaiki kembali apa yang kita lakukan.
Mudahlah mengakui kesalahan dan minta maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau di cintai Allah.
Mudahlah memberi maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau mudah diampuni segala kesalahan oleh Allah.
Selalu ingat memuji Allah dan Rasullullah (shalawat) sehingga engkau selalu diingat dipuji oleh Allah dan Rasulullah.
Selalu minta tolong Allah dan bersyafa’at kepada Rasulullah dalam segala hal.
Pancarkanlah asma/nama Allah (asmaul husna), af’al Allah dan sifat Allah dengan Qolbu dan tingkah laku di kehidupanmu.
Semoga engkau dicintai oleh Allah dan Rosullullah.
Sumber: Tasawuf Noto Ati Noto Ati
Nurut Marang Gusti Allah lan Nurut Marang Sabdaning Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Minggu, 23 Januari 2011
Cinta Allah cinta Rasulullah cinta ulama satu yang tak terpisahkan
Bagaimana bisa kita tahu caranya mencintai Allah SWT tanpa menuntut ilmu dari Rasulullah. Dan bagaimana kita tahu caranya Rasulullah mencintai Allah SWT tanpa kita menuntut ilmu kepada Para Ulama. Sebab itu tuntutlah ilmu dari Para Ulama dengan sabar dan sopan santun.
Dekatilah Para Ulama yang mencintai Allah SWT dan Rasululloh, cintai mereka lebih dari dirimu sendiri. Barang siapa mencintai Para Ulama Allah pasti akan mencontoh tingkah lakunya, yang berarti juga mencontoh tingkah laku Rasulullah.
Jadi itulah mengapa mencintai Allah sama dengan mencintai Rasulullah, mencintai Rasulullah sama dengan mencintai Para Ulama Allah SWT, dan begitu sebaliknya. Allah SWT, Rasulullah, Para Ulama Allah adalah satu yang tak terpisahkan karena satu tujuan yaitu Ar Rohmaan Ar Rohiim (kasih sayang) terhadap seluruh mahluk. Dan bentuk kasih sayang terhadap umat manusia dengan memberi petunjuk kebenaran hakiki yaitu mencintai Allah dengan cara takdim/menuruti segala perintah dan larangan Allah SWT, dengan tanpa alasan apalagi bantahan tapi dengan tulus ikhlas sopan santun.
Ciri khas Para Ulama Allah adalah ulama yang selalu mengingatkan umat manusia kepada Allah SWT yaitu takdim terhadap perintah dan laranganNya. Karena dengan begitu hidup didunia dan akhirat jadi selamat menyenangkan seperti hidup beribu ribu tahun.
Karena sudah banyak contoh manusia disekitar kita yang tidak pernah ingat Allah SWT walaupun mereka sering sholat dan sering berdzikir yang hanya untuk menyelesaikan kewajiban tanpa hadirnya hati dalam ibadah kehidupannya, apalagi yang tidak melakukannya. Hidup mereka menjadi susah dan ruwet walaupun mereka itu kaya maupun miskin.
Itu sesungguhnya ruh dirinya sedih susah dan sakit karena tidak dekat sama Allah, sebab sering tertipu oleh akal dan nafsunya. Sebab akal dan nafsunya sering tertipu oleh syaitan, karena akalnya tanpa ilmu dan nafsunya yang tak terkendali.
Wahai Sang Penuntut Ilmu, takdimlah terhadap perintah dan larangan Allah SWT(menurut tanpa alasan, bantahan tapi tulus ikhlas sopan santun)seperti yang dituntunkan Para Ulama Allah, Rasulullah dan Allah SWT. Itulah cara satu satunya dan pamungkas mencintai Allah, Rasulullah, Para Ulama Allah tiada jalan lain.
Cintailah Allah SWT cintailah Rasululloh cintailah Para Ulama Allah pasti akan mencintai dengan hakiki (kebenaran) terhadap dirimu, leluhurmu, keluaragamu, keturunanmu, bangsamu, negerimu, dan seluruh mahluk.
Sumber :Tasawuf Noto Ati
( http://tasawufnotoati.wordpress.com/ )
Dekatilah Para Ulama yang mencintai Allah SWT dan Rasululloh, cintai mereka lebih dari dirimu sendiri. Barang siapa mencintai Para Ulama Allah pasti akan mencontoh tingkah lakunya, yang berarti juga mencontoh tingkah laku Rasulullah.
Jadi itulah mengapa mencintai Allah sama dengan mencintai Rasulullah, mencintai Rasulullah sama dengan mencintai Para Ulama Allah SWT, dan begitu sebaliknya. Allah SWT, Rasulullah, Para Ulama Allah adalah satu yang tak terpisahkan karena satu tujuan yaitu Ar Rohmaan Ar Rohiim (kasih sayang) terhadap seluruh mahluk. Dan bentuk kasih sayang terhadap umat manusia dengan memberi petunjuk kebenaran hakiki yaitu mencintai Allah dengan cara takdim/menuruti segala perintah dan larangan Allah SWT, dengan tanpa alasan apalagi bantahan tapi dengan tulus ikhlas sopan santun.
Ciri khas Para Ulama Allah adalah ulama yang selalu mengingatkan umat manusia kepada Allah SWT yaitu takdim terhadap perintah dan laranganNya. Karena dengan begitu hidup didunia dan akhirat jadi selamat menyenangkan seperti hidup beribu ribu tahun.
Karena sudah banyak contoh manusia disekitar kita yang tidak pernah ingat Allah SWT walaupun mereka sering sholat dan sering berdzikir yang hanya untuk menyelesaikan kewajiban tanpa hadirnya hati dalam ibadah kehidupannya, apalagi yang tidak melakukannya. Hidup mereka menjadi susah dan ruwet walaupun mereka itu kaya maupun miskin.
Itu sesungguhnya ruh dirinya sedih susah dan sakit karena tidak dekat sama Allah, sebab sering tertipu oleh akal dan nafsunya. Sebab akal dan nafsunya sering tertipu oleh syaitan, karena akalnya tanpa ilmu dan nafsunya yang tak terkendali.
Wahai Sang Penuntut Ilmu, takdimlah terhadap perintah dan larangan Allah SWT(menurut tanpa alasan, bantahan tapi tulus ikhlas sopan santun)seperti yang dituntunkan Para Ulama Allah, Rasulullah dan Allah SWT. Itulah cara satu satunya dan pamungkas mencintai Allah, Rasulullah, Para Ulama Allah tiada jalan lain.
Cintailah Allah SWT cintailah Rasululloh cintailah Para Ulama Allah pasti akan mencintai dengan hakiki (kebenaran) terhadap dirimu, leluhurmu, keluaragamu, keturunanmu, bangsamu, negerimu, dan seluruh mahluk.
Sumber :Tasawuf Noto Ati
( http://tasawufnotoati.wordpress.com/ )
Sabtu, 22 Januari 2011
TATA CARA DAN TATA KRAMA BERDOA
Semua pekerjaan memiliki tata cara. Pekerjaan yang dilakukan
dengan mematuhi tata cara yang benar, pasti akan memberikan hasil
terbaik. Sebaliknya, jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan
asal-asalan, tidak menggunakan tata cara yang benar, maka
hasilnyapun akan asal-asalan.
Demikian juga dalam berdoa. Agar doa kita lebih maqbul, kita
harus menggunakan tata cara berdoa yang benar sesuai petunjuk
Allah dan Rasulnya sbb:
1.Membaca basmalah
2.Memuji Allah
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya" (An Nashr:3). Dalam ayat ini, Allah memberikan
petunjuk agar kita memuji-Nya sebelum menyampaikan maksud doa
yang kita panjatkan. Memuji Allah ialah dengan mungucapkan
"Alhamdu lillaahi robbil aalamiin" (segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam).
3.Bershalawat untuk Nabi
Dari Annas bin Malik: “Tidaklah seseorang berdoa, kecuali antara
dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada nabi”.
Jadi, bershalawat kepada Nabi sangat penting untuk membuka hijab
(tirai) doa sampai pada Allah azza wa jalla.
Bershalawat atas Nabi adalah membaca "Allahumma sholli ala sayyi-
dinaa Muhammad"
4.Membaca asmaul husna
"Dan Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah dengan menyebut
asmaa-ul husna itu"(QS Al Araf : 180).
Contoh membaca asmaul husna dalam berdoa:
- Ya Allah, ya RAHMAN
- Ya GHOFUR... ampunilah kami
- Robbanaa innaka anta SAMIIUL 'ALIIM
5.Menyebutkan maksud yang diminta
Point ke-5 ini adalah inti dari doa (permintaan) kita
Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Mendekatkan diri kepada Allah
- Berdoa dengan sungguh-sungguh dan optimis
- Tidak bosan berdoa sampai doa terkabul
- Pada tempat & waktu mustajabah
- Lebih baik menggunakan redaksi doa yang ada dalam Qur'an/ hadits
- Berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan
- Sabar & tawakkal
Dalam meminta sesuatu kepada manusia, tentu perlu menggunakan
tata cara dan tata krama yang benar dan sopan, bukan? Coba kita
bayangkan seandainya tiba-tiba ada orang mendatangi kita, dan
langsung meminta sesuatu dengan cara yang tidak sopan, bagaimana
perasaan kita?
Nah, jika kita berdoa (meminta) kepada Allah langsung to the
point ke-5 (langsung menyebut maksud yang diminta), maka berarti
kita sama sekali tidak menggunakan tata cara dan tata krama dalam
berdoa. Mungkin inilah sebab mengapa doa-doa kita selama ini
tidak terkabul.
Sumber :Ladang Ilmu, Bisnis dan Dakwah
http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
dengan mematuhi tata cara yang benar, pasti akan memberikan hasil
terbaik. Sebaliknya, jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan
asal-asalan, tidak menggunakan tata cara yang benar, maka
hasilnyapun akan asal-asalan.
Demikian juga dalam berdoa. Agar doa kita lebih maqbul, kita
harus menggunakan tata cara berdoa yang benar sesuai petunjuk
Allah dan Rasulnya sbb:
1.Membaca basmalah
2.Memuji Allah
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya" (An Nashr:3). Dalam ayat ini, Allah memberikan
petunjuk agar kita memuji-Nya sebelum menyampaikan maksud doa
yang kita panjatkan. Memuji Allah ialah dengan mungucapkan
"Alhamdu lillaahi robbil aalamiin" (segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam).
3.Bershalawat untuk Nabi
Dari Annas bin Malik: “Tidaklah seseorang berdoa, kecuali antara
dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada nabi”.
Jadi, bershalawat kepada Nabi sangat penting untuk membuka hijab
(tirai) doa sampai pada Allah azza wa jalla.
Bershalawat atas Nabi adalah membaca "Allahumma sholli ala sayyi-
dinaa Muhammad"
4.Membaca asmaul husna
"Dan Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah dengan menyebut
asmaa-ul husna itu"(QS Al Araf : 180).
Contoh membaca asmaul husna dalam berdoa:
- Ya Allah, ya RAHMAN
- Ya GHOFUR... ampunilah kami
- Robbanaa innaka anta SAMIIUL 'ALIIM
5.Menyebutkan maksud yang diminta
Point ke-5 ini adalah inti dari doa (permintaan) kita
Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Mendekatkan diri kepada Allah
- Berdoa dengan sungguh-sungguh dan optimis
- Tidak bosan berdoa sampai doa terkabul
- Pada tempat & waktu mustajabah
- Lebih baik menggunakan redaksi doa yang ada dalam Qur'an/ hadits
- Berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan
- Sabar & tawakkal
Dalam meminta sesuatu kepada manusia, tentu perlu menggunakan
tata cara dan tata krama yang benar dan sopan, bukan? Coba kita
bayangkan seandainya tiba-tiba ada orang mendatangi kita, dan
langsung meminta sesuatu dengan cara yang tidak sopan, bagaimana
perasaan kita?
Nah, jika kita berdoa (meminta) kepada Allah langsung to the
point ke-5 (langsung menyebut maksud yang diminta), maka berarti
kita sama sekali tidak menggunakan tata cara dan tata krama dalam
berdoa. Mungkin inilah sebab mengapa doa-doa kita selama ini
tidak terkabul.
Sumber :Ladang Ilmu, Bisnis dan Dakwah
http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
Rabu, 05 Januari 2011
IKHTIAR (BERUSAHA) DULU, TAWAKKAL KEMUDIAN
Bicara tentang Ikhtiar dan Tawakkal, marilah kita jujur mengukur diri bagaimana cara Ikhtiar dan Tawakkal kita selama ini. Sudahkah kita pastikan bahwah kita telah berikhtiar semaximal mungkin untuk mencapai yang kita inginkan dan mewujudkan Tawakkal yang seharusnya ?
Kita pasti pernah mendengar sebuah riwayat tentang seorang sahabat Nabi SAW yang salah paham dalam "Mentawakkali" untanya. Saat sahabat Nabi SAW turun dari untanya, dia langsung meninggalkan untanya begitu saja. Ketika berjumpa dengan Nabi SAW, sang sahabatpun bertanya kepada beliau, " Wahai Nabi,apakah aku lepaskan untaku dan(lalu) aku bertawakkal? ", Nabipun bersabda , " Ikatlah dan kemudian bertawakkallah kepada Allah ". Mengetahui riwayat tersebut maka jelaslah sudah Rosulullah SAW membenarkan arti Tawakkal adalah pada mereka yang telah " Mengikat Untanya " atau TELAH BERUSAHA yang mau meneteskan keringat karena pekerjaannya.
Sering kita mendengar kata-kata yang berkaitan dengan Tawakkal,contoh kata-kata itu adalah " ya pasrah,Tawakkal saja ". Sebagian dari yang mengatakan Tawakkal ada yang benar-benar diikuti dengan perilaku yang mencerminkan dia siap menerima apapun hasil yang diperolehnya, wajah mereka tetap terlihat gembira, tidak susah, tetap optimis dan bersemangat jalani aktifitasnya, meski keberhasilan belum sepenuhnya didapatkannya. Namum sebagian individu lain, Tawakkal yang dikatakan hanya sekedar ungkapan belaka, tidak dibarengi dengan prilaku yang benar atau ternyata tidaklah siap menerima apapun hasil yang diperolehnya. Individu tersebut terlihat terbebani, raut wajahnya kaku, sedih bercampur kegusaran yang teramatkan, kecewa, sehingga dihinggapi kemurungan dan strees. Pengakuan hanyalah pengakuan,bisa jadi itu fakta atau mengada-ada, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang ada didalam diri setiap hamba-hamba-Nya.
Perjalanan hidup kita tidak pernah lepas dari "Ikhtiar dan Tawakkal" itulah bentuk kejujuran kita kepada sunnatullah kehidupan. Melakukan usaha demi mencapai hasil yang diinginkan adalah sudah "ketetapan" dalam kehidupan yang sudah dibuat Allah SWT dan sudah menjadi ketentuan-Nya hingga berakhirnya dunia.Memaknai Ikhtiar dalam kaitannya denga Tawakkal, sebagai orang beriman kita dapat melihat "Usaha/ikhtiar" dalam dua konteks:
1. Usaha merupakan syarat untuk menuju keberhasilan.
2. Usaha merupakan perintah Allah SWT yang kalau kita melaksanakannya dengan niat karena Allah SWT berarti kita mendapat balasan pahala dari Allah SWT.
Rosulullah SAW adalah insan mulia yang paling dicintai oleh Allah SWT dan beliau adalah yang paling mengenal Allah SWT. Beliau tahu betul bahwa takdir Allah SWT tak akan luput kepada apapun dan siapapun. Bahkan kalau mau, beliau sangat bisa untuk tidak melakukan Usaha apapun mengingat status beliau sebagai utusan Allah SWT yang diberi banyak Mukjizat. Salah satunya Mukjizat Rosulullah SAW adalah beliau bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi. Dalam kwalitas Tawakkal yang tak tertandingi,beliau masik melakukan yang namanya USAHA atau IKHTIAR. Rosulullah sepertinya ingin mengajarkan tentang hakikatnya suatu USAHA, dimana USAHA/IKHTIAR itu lebih dari sekedar jalan menuju keberhasilan, melainkan juga sebuah ketaatan dalam mengikuti Sunnatullah (aturan) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, kita yang jelas-jelas tidak memiliki Mukjizat "bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi" harusnya lebih banyak untuk berusaha/berikhtiar dalam mencapai masa depan yang kita inginkan. Allah SWT berfirman dalam (QS. At-Taubah:105) : " Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) Yang Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan ".
*Kita Bekerja,untuk mendekatkan kita pada hasil yang diinginkan...
*Kita Bekerja, karena tiap inchi gerakan yang kita lakukan pasti disaksikan Allah SWT...
*Kita Bekerja, karena dengan pekerjaan kita itu, kelah Allah akan memberitahukan hasil yang kita kerjakan.
Dan jika kita orang yang beriman, tentu tahu bahwa maksud "hasil" itu tak hanya didunia melainkan juga untuk akhirat.
Ketidakmaximalan suatu usaha/ikhtiar paling banyak disebabkan karena ketiadaan atau kurangnya Ilmu yang dimiliki.
Tidak bisa dikatakan sempurna sebuah ikhtiar yang tidak dilandasi dengan ilmu, betapa ilmu sangat penting dalam ikhtiar yang kita lakukan. Bahkan kedudukan ilmu mengalahkan kekuatan fisik yang identik dengan kerja keras. Mari kita lihat disekeliling kita, seperti keluarga yang sukses, keluarga yang tentram, anak yang santun, kedudukan-kedudukan suatu profesi, banyak yang dilatarbelakangi oleh individu yang memiliki ilmu.
Sedangkan sebaik-baik ilmu adalah segala apa yang ada didalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "dan ikutilah apa YANG DIWAHYUKAN Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan BERTAWAKKALLAH kepada Allah SWT. Dan cukuplah Allah SWT sebagai pemelihara ".(QS. Al-Ahzab 2:3)
Menurut Imam Al-Ghozali, untuk Tawakkal yang sempurna kepada Allah yaitu kita harus Yakinkan dalam hati 4 keyakinan :
1. Tawakkal karena yakin Allah SWT adalah yang Maha Menyelesaikan masalah.
2. Tawakkal karena yakin Allah SWT pemilik sebenar-benarnya kekuatan.
3. Tawakkal karena yakin Allah SWT yang kehendak-Nya tak akan terhalangi oleh siapapun.
4. Tawakkal karena yakin Allah SWT Dzat yang Maha Penyayang, yang berkenan membuka pintu pertolongan kepada setiap hamba yang datang kepada-Nya.
Bersama dengan itu kita cari ilmu-ilmu yang lain, dari manapun dan dari siapapun asal baik untuk diri kita. Karena pada dasarnya semua ilmu didunia ini datangnya atas izin dan kehendak Allah SWT. Bila usaha/ikhtiar telah dilandasi kerja keras dan ilmu, maka Insya Allah Tawakkal kita akan meyakinkan.
Wallahu A'lam Bisshowab,
Sumber > http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
LADANG ILMU, BISNIS DAN DAKWAH
Kita pasti pernah mendengar sebuah riwayat tentang seorang sahabat Nabi SAW yang salah paham dalam "Mentawakkali" untanya. Saat sahabat Nabi SAW turun dari untanya, dia langsung meninggalkan untanya begitu saja. Ketika berjumpa dengan Nabi SAW, sang sahabatpun bertanya kepada beliau, " Wahai Nabi,apakah aku lepaskan untaku dan(lalu) aku bertawakkal? ", Nabipun bersabda , " Ikatlah dan kemudian bertawakkallah kepada Allah ". Mengetahui riwayat tersebut maka jelaslah sudah Rosulullah SAW membenarkan arti Tawakkal adalah pada mereka yang telah " Mengikat Untanya " atau TELAH BERUSAHA yang mau meneteskan keringat karena pekerjaannya.
Sering kita mendengar kata-kata yang berkaitan dengan Tawakkal,contoh kata-kata itu adalah " ya pasrah,Tawakkal saja ". Sebagian dari yang mengatakan Tawakkal ada yang benar-benar diikuti dengan perilaku yang mencerminkan dia siap menerima apapun hasil yang diperolehnya, wajah mereka tetap terlihat gembira, tidak susah, tetap optimis dan bersemangat jalani aktifitasnya, meski keberhasilan belum sepenuhnya didapatkannya. Namum sebagian individu lain, Tawakkal yang dikatakan hanya sekedar ungkapan belaka, tidak dibarengi dengan prilaku yang benar atau ternyata tidaklah siap menerima apapun hasil yang diperolehnya. Individu tersebut terlihat terbebani, raut wajahnya kaku, sedih bercampur kegusaran yang teramatkan, kecewa, sehingga dihinggapi kemurungan dan strees. Pengakuan hanyalah pengakuan,bisa jadi itu fakta atau mengada-ada, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang ada didalam diri setiap hamba-hamba-Nya.
Perjalanan hidup kita tidak pernah lepas dari "Ikhtiar dan Tawakkal" itulah bentuk kejujuran kita kepada sunnatullah kehidupan. Melakukan usaha demi mencapai hasil yang diinginkan adalah sudah "ketetapan" dalam kehidupan yang sudah dibuat Allah SWT dan sudah menjadi ketentuan-Nya hingga berakhirnya dunia.Memaknai Ikhtiar dalam kaitannya denga Tawakkal, sebagai orang beriman kita dapat melihat "Usaha/ikhtiar" dalam dua konteks:
1. Usaha merupakan syarat untuk menuju keberhasilan.
2. Usaha merupakan perintah Allah SWT yang kalau kita melaksanakannya dengan niat karena Allah SWT berarti kita mendapat balasan pahala dari Allah SWT.
Rosulullah SAW adalah insan mulia yang paling dicintai oleh Allah SWT dan beliau adalah yang paling mengenal Allah SWT. Beliau tahu betul bahwa takdir Allah SWT tak akan luput kepada apapun dan siapapun. Bahkan kalau mau, beliau sangat bisa untuk tidak melakukan Usaha apapun mengingat status beliau sebagai utusan Allah SWT yang diberi banyak Mukjizat. Salah satunya Mukjizat Rosulullah SAW adalah beliau bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi. Dalam kwalitas Tawakkal yang tak tertandingi,beliau masik melakukan yang namanya USAHA atau IKHTIAR. Rosulullah sepertinya ingin mengajarkan tentang hakikatnya suatu USAHA, dimana USAHA/IKHTIAR itu lebih dari sekedar jalan menuju keberhasilan, melainkan juga sebuah ketaatan dalam mengikuti Sunnatullah (aturan) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, kita yang jelas-jelas tidak memiliki Mukjizat "bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi" harusnya lebih banyak untuk berusaha/berikhtiar dalam mencapai masa depan yang kita inginkan. Allah SWT berfirman dalam (QS. At-Taubah:105) : " Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) Yang Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan ".
*Kita Bekerja,untuk mendekatkan kita pada hasil yang diinginkan...
*Kita Bekerja, karena tiap inchi gerakan yang kita lakukan pasti disaksikan Allah SWT...
*Kita Bekerja, karena dengan pekerjaan kita itu, kelah Allah akan memberitahukan hasil yang kita kerjakan.
Dan jika kita orang yang beriman, tentu tahu bahwa maksud "hasil" itu tak hanya didunia melainkan juga untuk akhirat.
Ketidakmaximalan suatu usaha/ikhtiar paling banyak disebabkan karena ketiadaan atau kurangnya Ilmu yang dimiliki.
Tidak bisa dikatakan sempurna sebuah ikhtiar yang tidak dilandasi dengan ilmu, betapa ilmu sangat penting dalam ikhtiar yang kita lakukan. Bahkan kedudukan ilmu mengalahkan kekuatan fisik yang identik dengan kerja keras. Mari kita lihat disekeliling kita, seperti keluarga yang sukses, keluarga yang tentram, anak yang santun, kedudukan-kedudukan suatu profesi, banyak yang dilatarbelakangi oleh individu yang memiliki ilmu.
Sedangkan sebaik-baik ilmu adalah segala apa yang ada didalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "dan ikutilah apa YANG DIWAHYUKAN Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan BERTAWAKKALLAH kepada Allah SWT. Dan cukuplah Allah SWT sebagai pemelihara ".(QS. Al-Ahzab 2:3)
Menurut Imam Al-Ghozali, untuk Tawakkal yang sempurna kepada Allah yaitu kita harus Yakinkan dalam hati 4 keyakinan :
1. Tawakkal karena yakin Allah SWT adalah yang Maha Menyelesaikan masalah.
2. Tawakkal karena yakin Allah SWT pemilik sebenar-benarnya kekuatan.
3. Tawakkal karena yakin Allah SWT yang kehendak-Nya tak akan terhalangi oleh siapapun.
4. Tawakkal karena yakin Allah SWT Dzat yang Maha Penyayang, yang berkenan membuka pintu pertolongan kepada setiap hamba yang datang kepada-Nya.
Bersama dengan itu kita cari ilmu-ilmu yang lain, dari manapun dan dari siapapun asal baik untuk diri kita. Karena pada dasarnya semua ilmu didunia ini datangnya atas izin dan kehendak Allah SWT. Bila usaha/ikhtiar telah dilandasi kerja keras dan ilmu, maka Insya Allah Tawakkal kita akan meyakinkan.
Wallahu A'lam Bisshowab,
Sumber > http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
LADANG ILMU, BISNIS DAN DAKWAH
Langganan:
Postingan (Atom)








