Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Ramadhan. Nabi SAW memberi kabar gembira mengenai bulan suci ini

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Ramdhan. Nabi SAW memberi kabar gembira mengenai bulan suci ini.


Sepertiga pertama dari bulan suci Ramadan adalah sepuluh hari yang penuh rahmat bagi seluruh manusia. 

Sepuluh hari keduanya adalah hari-hari yang penuh pengampunan dari Allah SWT...

dan sepertiga bagian terakhir adalah pembebasan dari Neraka bagi orang-orang yang beriman, Allah SWT membebaskan mereka dari Neraka. 

Oleh sebab itu, orang-orang beriman yang berusaha menjaga perintah Tuhan mereka di siang hari selama bulan Ramadan yang penuh berkah dengan puasa dan malam hari dengan salat tarawih1 dan tahajjud akan diganjar oleh Tuhan kita dengan memberi mereka pembebasan dan keamanan (bara`ah) dari Neraka, dan mereka telah diberi kabar gembira tentang Surga.2

Struktur spiritual manusia secara keseluruhan dibangun atas kebersihan, dan mustahil bagi seseorang untuk meningkatkan maqam spiritualnya tanpa terlebih dahulu mencapai kebersihan yang lengkap, baik fisik maupun spiritual. Puasa adalah awal bagi kebersihan spiritual. Langkah pertama adalah level orang awam untuk puasa; yaitu berusaha untuk membebaskan diri kalian dari perintah dan kendali ego kalian. Bila kalian masih berada di bawah perintah dan kendali ego kalian, kalian tetap tidak bersih.

Oleh sebab itu level pertama puasa adalah memaksa ego agar kita bisa mengambil alih kontrol dari tangannya dan menjadikan kendali itu berada di tangan kita—oleh sebab itu kita menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual di siang hari.

Langkah pertama adalah menghindari apa yang dihalalkan setiap hari kecuali di bulan Ramadan. Makan, minum dan melakukan hubungan seksual adalah halal, tetapi di bulan Ramadan, hal-hal yang dibolehkan menjadi haram di siang hari. Itu adalah dasar dari proses pembersihan, tetapi tujuan yang lebih tinggi adalah mencapai pembersihan yang lebih dalam.

Untuk mencapai pembersihan yang lebih dalam, langkah selanjutnya adalah berusaha untuk bersih dari dosa-dosa: kalian harus menjaga pandangan kalian, lidah kalian, telinga kalian, tangan kalian, kaki kalian dan seluruh bagian tubuh kalian dari perbuatan-perbuatan yang salah. Kalian harus mengatakan pada diri sendiri, “Wahai lidahku! Walaupun engkau telah menjaga dirimu dari merasakan (nikmatnya) makanan dan minuman, tetap saja engkau harus berhati-hati. Jangan mengatakan apapun yang terlarang.”

Langkah kedua—membersihkan diri kita dari seluruh perbuatan terlarang dan dosa-dosa, membuat diri kita lebih ringan; kita dapat bergerak menuju maqam spiritual yang lebih tinggi. Tetapi itu belum cukup.

Langkah ketiga ditujukan untuk hati. Kalian harus hadir untuk hati kalian. Allah SWT mengatakan kepada kita, “Hati kalian adalah milik-Ku.” Di antara keturunan Adam AS, setiap bagian tubuhnya adalah miliknya, kecuali satu. “Hati kalian adalah milik-Ku, bukan milik yang lain,” Allah SWT mengatakan, “Oleh sebab itu Aku menginginkan agar ia tetap bersih, sebersih-bersihnya.”3

Bagaimana agar ia menjadi bersih? Segala sesuatu selain Allah SWT dan segala sesuatu yang tidak diridai-Nya harus dikeluarkan dari dalam hati kalian. Setiap saat kalian bersama diri kalian, kalian dapat melihat pada hati kalian untuk mengetahui apakah kalian bersama Tuhan kalian atau dengan seseorang atau sesuatu yang lain. Setiap kali kalian mengamati hati kalian dan menemukan bahwa diri kalian bersama Tuhan kalian, Allah SWT, kalian harus menganggap bahwa kalian beruntung. Pada saat itu cahaya Ilahi akan memasuki hati kalian, dan kalian dapat meraih kenikmatan Iman yang sejati. Nabi SAW bersabda, “Pandangan sekilas disertai hasrat seksual adalah salah satu panah beracun dari setan. Orang yang karena rasa penyesalannya bisa menghindari hal itu akan menerima Iman dari Allah SWT, dan merasakan suatu kepuasan dalam hatinya.”

Dengan demikian, setiap orang beriman perlu mengontrol setiap perbuatannya. Tanpa menjaga perbuatan kita, pasti kita akan merugi. Dan setiap perbuatan dimulai dengan pikiran. Setan sangat mengenal sifat alamiah manusia. Di dalam setiap macam pikiran, ia telah meletakkan tipu dayanya. Siapapun yang mampu mengontrol pikirannya, ia akan selamat dari godaan setan; tetapi siapapun yang tidak mampu mengontrolnya akan mempunyai pikiran yang penuh dengan ide-ide setani dan kebohongan. Siapapun yang berada di bawah kontrol setan tidak dapat menjadi hamba yang patuh kepada Tuhannya. Sebagai Muslim dan Mukmin, hal ini harus menjadi perhatian yang utama—yaitu mengendalikan diri kita. Jika kalian merasakan ada kendali setan yang mempengaruhi diri kalian, baik melalui perbuatan maupun pikiran, kalian harus berjuang untuk membersihkannya.

Peningkatan ibadah—suatu jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang berakhirnya Ramadan, membuat kita dapat menemukan diri kita “menangis untuk Ramadan.” Bulan ini memberikan begitu banyak kenikmatan kepada kita, melalui peningkatan kepatuhan dan ibadah kepada Allah SWT. Keduanya adalah sumber bagi seluruh kebahagiaan sejati—kepatuhan dan ibadah. Untuk itulah Nabi SAW bersabda, “Yang menjadi apel bagi mataku adalah salat.”

Allah SWT telah mengirimkan pesan-pesan-Nya kepada kita melaui nabi-nabi-Nya. Rangkuman dari pesan-pesan itu adalah bahwa manusia harus mengendalikan diri mereka. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan salat lima waktu sehari ditambah ibadah sunnah. Ada lima waktu salat yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, tetapi Nabi SAW juga mengerjakan salat sunnah siang dan malam, sehingga waktu-waktu salat itu membuat kita mampu mengendalikan anggota tubuh dan hati kita. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi, “Wahai hamba-Ku! Jika kalian membuat satu langkah kepada-Ku, Aku akan membuat sepuluh langkah kepadamu.” Oleh sebab itu kita harus aktif untuk-Nya. Buatlah langkah-langkah kalian lebih kokoh di jalur yang benar dan agar kalian lebih kuat hari demi hari.

Musim ibadah yang suci ini yang akan membuat kalian bergerak menuju Allah SWT. “Ketika Ramadan datang… suatu panggilan menyeru setiap malam, ‘Wahai para pencari kebaikan, mendekatlah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah!’” [an-Nasa'i]. Oleh sebab itu, bulan ini menghadirkan kesempatan yang istimewa: satu untuk meningkatkan ibadah dan meningkatkan pengabdian. Di dalamnya terdapat tarawih dan salat malam yang memungkinkan seseorang lebih dekat kepada Allah SWT. Kita memiliki kesempatan selama bulan suci Ramadan yang lebih besar dibandingkan di waktu-waktu yang lainnya. Orang yang dapat mengontrol dirinya selama Ramadan akan mampu, dengan dukungan Allah SWT, mengendalikan dirinya di sebelas bulan yang lain. Segala sesuatu dimulai dari yang kecil, kemudian berkembang, begitu pula dengan hal-hal baik dan hal-hal buruk, perilaku yang baik dan yang buruk, bagi setiap diri kita tentu ada awalnya. Dan awal itu sulit, tetapi kalian harus bersabar dan melanjutkannya, jika kalian meyakini bahwa hal itu benar, kalian harus melanjutkannya, walaupun itu akan sangat sulit.

Kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi dengan Iman yang kuat dan Iman yang kuat ada pada orang-orang yang mampu mengendalikan diri mereka. Oleh sebab itu buatlah niat yang kuat dan berkelanjutan untuk meningkatkan ibadah, bukan hanya di bulan suci ini, Ramadan, tetapi untuk seterusnya.


Catatan:
1. Yahya melaporkan kepada saya dari Malik bahwa Yazid ibn Ruman berkata, “Orang-orang biasanya melakukan salat malam di bulan Ramadan selama dua puluh tiga rakaat di masa Umar ibn al-Khattab RA.” [Al-Muwatta, 6.2.5]

2. “Ini adalah sebuah bulan, yang di bagian pertamanya membawa Rahmat Allah SWT, di pertengahannya membawa pengampunan Allah SWT dan bagian terakhir membawa pembebasan dari api neraka.” [Bukhari].

3. Ini adalah salah satu tafsir dari hadis qudsi yang dinarasikan oleh Abu Hurayra RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala untuk itu, karena ia (yang melaksanakan puasa) meninggalkan hasrat seksualnya, makan dan minum demi Aku. Puasa adalah sebuah hijab (dari neraka) dan ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, pertama pada saat ia berbuka puasa, dan yang kedua pada saat ia akan bertemu dengan Tuhannya. Dan aroma mulut dari orang yang berpuasa adalah lebih baik di Sisi Allah SWT daripada wangi kasturi.” [Bukhari]





Minggu, 08 Januari 2012

Indahnya Hati Yang Bersih



Saudara-saudaraku, sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, bercahaya dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan manfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya. Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.

Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah.




Sumber: Income Syariah By Abu Ghazi
Sambil Berbisnis,Dapat Uang,Pulsa Sekaligus Berbagi



Senin, 31 Oktober 2011

Memberilah, Maka Engkau Akan Mendapatkan Lebih Banyak


Entah mengapa, pagi ini saya teringat beberapa orang yang dengannya saya intensif berdialog maya. Dan begitu saja, saya langsung mengetik sebuah nama di kolom search, hingga terpampang semua email yang pernah saya peroleh dari pemilik nama itu, satu halaman penuh.

Nama itu adalah Hernowo, yang saat ini menjadi CEO dan Instruktur di kelas menulis Mizan Learning Center. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah cukup intensif berdiskusi melalui email dengan penulis lebih dari dua puluh buku tentang keterampilan membaca dan menulis itu. Jika masyarakat pada umumnya mengagumi buku-bukunya dan prestasinya, saya justru paling appreciate pada satu hal kecil yang saya temukan pada beliau ketika kami masih sering berbagi dulu, dan baru saja saya temukan lagi.

Hal kecil itu adalah fakta bahwa beliau selalu membalas email saya. Hal kecil lainnya adalah, email jawaban Mas Her (demikian saya memanggil beliau) selalu jauh lebih panjang dari email yang saya kirimkan. Sungguh dulu saya sangat terheran-heran dengan semua itu, hingga saya tak sanggup menahan diri untuk bertanya, “Mengapa begitu? Tidakkah kesibukan beliau yang luar biasa menjadi kendala untuk menulis email sepanjang itu dan kepada banyak orang? Tidakkah beliau ‘rugi’?”

Pertanyaan itu saya lontarkan, mengingat saya yang tidak sesibuk beliau, selalu ‘kalang kabut’ untuk dapat membalasi email-email yang saya terima. Saya selalu mendahulukan email yang bisa saya jawab dengan satu atau dua baris kalimat saja dan menyisihkan email yang memerlukan jawaban panjang untuk saya jawab kemudian (kemudian di sini bisa berarti berminggu-minggu bahkan bulanan).

Jawaban Mas Her membuat saya makin tertegun-tegun. “Sungguh ini menyenangkan. Saya kira hanya dengan bertukar pikiranlah sesuatu yang baru itu bisa dimunculkan ya. Lewat beginian inilah saya sebenarnya belajar.”

Kalimat itu lebih lanjut mendapatkan penjelasannya ketika kami bertemu di darat dalam beberapa kesempatan berikutnya. Menurut Mas Her, pertama, justru dengan memberi, dengan berbagi, dengan bertukar pikiran, beliau pada saat yang sama mendapatkan banyak hal: masukan, pemahaman dan ide-ide baru. Jadi sesungguhnya tidak ada kata rugi atas waktu, tenaga dan pikiran yang beliau habiskan dengan membalasi sekian email itu. Kedua, membalas email, berkomunikasi, adalah salah satu media silaturahmi. Pernahkah kita mendengar ruginya menjalin silaturahmi? Apalagi, beliau tidak pernah merasa tertekan atau terbebani dengan semua itu. “Saya senang melakukannya. Saya cinta menulis, termasuk menulis email.”

Ketika saya membaca ulang email-email panjang Mas Her. Ketika saya menuliskan kalimat-kalimat di atas, berbagai hal meluncur deras ke dalam benak saya, seakan memberikan dalil dan teori atas semua yang disampaikan Mas Her.

Sesungguhnya generasi Rabbani adalah mereka yang belajar dan kemudian mengajarkannya, membaginya.

Perumpamaan orang yang mengifaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh:2:261)

“Orang –orang terbaik di antara kamu adalah mereka yang belajar dan mengajarkan al-Qur'an” Demikian sebuah hadits nabi yang pernah saya baca.

Saya juga teringat Utsman Bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, yang semakin banyak mereka ber-infaq, harta mereka pada saat yang sama bertambah jauh lebih banyak dari yang pernah mereka berikan.

“Jalinlah silaturahmi niscaya akan engkau dapatkan pintu-pintu rezeki,” ini sebuah kata bijak dari para ulama, yang dalam wawasan kontemporer disebut dengan networking.

Saya tertegun. Semua hal di atas, menuntun jemari saya untuk menuliskan kalimat terakhir. Memberilah, maka engkau akan mendapatkan lebih banyak.




Sumber :Azimah Rahayu, INCOME SYARIAH

Gabung bersama Income Syariah http://www.income-syariah.com/?id=Mitra.Syariah GUNAKAN INTERNET sambil NAMBAH INCOME dapat DUIT, PULSA sekaligus BERBAGI.


RAHASIA SUKSES :
http://rahasianadiameutia.com/?id=meisyaondbc dengan TEKAD, TAKE ACTION dan DO'A Insya Allah KEBERHASILAN akan BISA DIRAIH.

Sabtu, 21 Mei 2011

KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SAW


Wahai Manusia,dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.

Wahai manusia,sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci,maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi.Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba,oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dan dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar,maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti nya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia,sebagaimana kamu mempunyai hak keatas isteri kamu ,mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik,berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia ,dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini,Sembahlah Allah,Dirikanlah shalat lima waktu sehari semalam, Berpuasalah di Bulan Ramadan dan Tunaikanlah Zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadat Haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah bersaudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama,tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.

Ingatlah,bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu Awasilah agar jangan sekali-kali terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia,tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia,nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara,yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya ,nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya.Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku menyampaikan pula kepada orang lain.

SEMOGA YANG TERAKHIR LEBIH MEMAHAMI KATA-KATAKU DARI MEREKA YANG TERUS MENDENGAR DARI KU...

Saksikanlah Ya Allah bahawasanya telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba mu."

Khutbah ini disampaikan oleh Rasullah s.a.w pada 9 Zulhijjah Tahun 10 Hijrah di Lembah Uranah,Gunung Arafah.)




SUMBER ; GRUP FACEBOOK KARYA PEMUDA - PEMUDI ISLAM > Dari Shobat Facebook Ahmad Fadli Hasibuan

GUNAKAN INTERNET sambil BERBISNIS sekaligua BERSEDEKAH dan MENAMBAH ILMU:
KLIK > http://www.income-syariah.com/?id=Mitra.Syariah


MARI MENAMBAH ILMU SAMBIL BERBISNIS SEKALIGUS BERDAKWAH :
KLIK > http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Selasa, 12 April 2011

BERBAGAI TINGKATAN MANUSIA DAN BERBAGAI KEDUDUKAN MEREKA

SYAIKH 'ABDUL QADIR JAILANI R.A. BERKATA : Ada Empat Golongan Manusia.


GOLONGAN PERTAMA adalah orang yang tidak MEMPUNYAI LISAN dan HATI. Dialah orang yang DURHAKA, semua perbuatannya TERCELA, yang tidak diperdulikan oleh Allah SWT, dan tidak memiliki kebaikan di dalam dirinya. Dia dan yang semacamnya bagaikan sampah yang tidak berarti. Kecuali jika Allah SWT mencurahkan rahmat-Nya, lalu membimbing hati mereka menuju hidayah untuk beriman kepada Allah, dan menggerakkan anggota badan mereka untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Maka hati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk dalam golongan mereka, jangan memperhatikan mereka jangan bersama mereka. Karena mereka adalah golongan yang mendatangkan siksa, kemarahan dan murka, penghuni neraka, na'udzu billahi minhum ( kami berlindung kepada Allah dari meraka ).

Sebaiknya, engkau harus berbekal pengetahuan tentang Allah SWT, mengajarkan kebaikan, dan memberi petunjuk, membawa ke jalan yang lurus, dan yang mengajak kepada Allah SWT. Maka datangilah mereka dan ajak mereka untuk taat kepada Allah SWT. Peringatkan mereka agar tidak melakukan kemaksiatan yang dibenci oleh Allah SWT. Dengan demikian engkau akan diberi pahala yang setimpal dengan pahala para Nabi dan Rasul di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW, berkata kepada 'Ali bin Abi Thalib r.a.: " JIKA ALLAH SWT MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA SESEORANG MELALUI/LEWAT PERANTARA PETUNJUKMU/AJAKANMU, ITU LEBIH BAIK BAGIMU DARIPADA TERBITNYA MATAHARI PADA SESEORANG. "

GOLONGAN KEDUA, adalah orang yang MEMPUNYAI LISAN tetapi TIDAK MEMPUNYAI HATI. Ia berbicara tentang kearifan tetapi tidak melakukannya. Ia mengajak orang kejalan Allah SWT tetapi dia sendiri lari dari-Nya. Ia mencela aib orang tetapi aib itu masih terus ada didalam dirinya. Dihadapan orang banyak ia terlihat rajin beribadah, sedangkan dihadapan Allah SWT dia jelas-jelas melakukan kemaksiatan dan tiada orang lain mengetahuinya ( karena Allah SWT belum memperlihatkan aibnya ). Maka apabila sedang dalam kesendirian, ia bagaikan serigala yang berpakaian.

Terhadap orang seperti inilah Rasulullah SAW. memperingatkan kita dengan sabdanya: " Yang paling aku takutkan dari ummatku adalah orang yang munafik yang alim dalam ucapannya." Dalam Hadistz yang lainnya: " Yang paling aku takutkan dari ummatku adalah al-'ulama' as-Su' ( Ulama yang tidak terpuji perangainya )." Kita berlindung kepada Allah SWT dari perangai seperti ini.

Jauhilah dia dan jangan dekat-dekat, agar keindahan kata-katanya tidak memperdayaimu. Jika engkau terpedaya, maka api maksiatannya akan membakarmu, dan racun bathin dan hatinya akan membinasakanmu.

GOLONGAN KETIGA, adalah yang MEMILIKI HATI tapi TIDAK MEMILIKI LISAN. Yaitu orang Mukmin yang disembunyikan oleh Allah SWT dari makhluk-Nya. Dia menjaganya, menyadarkannya akan aib-aib yang ada dalam dirinya, menerangi hatinya , dan memperkenalkan kepadanya hal-hal yang tercelah dalam bergaul dengan orang dari pembicaraan atau ucapan yang tidak baik. SEHINGGA DIA( Hamba ) YAKIN BAHWA KESELAMATAN ADALAH DENGAN DIAM DAN MENYENDIRI.

Rasulullah SAW. bersabda: " Barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat." Dan Sabdanya pula: " Ibadah itu ada sepuluh bagian, sembilan diantaranya adalah DIAM."

Inilah WALIYULLAH, terjaga dalam lindungan Allah SWT, yang memiliki kedamaian, akal, dan firasat yang tajam. Ia adalah sahabat Sang Maha Penyayang, yang di anugerahi berbagai kenikmatan. Maka semua kebaikan ada disisinya. JADIKANLAH DIA SEBAGAI SAHABAT, BERKHIDMATLAH KEPADANYA DAN CINTAILAH IA, yaitu WALIYULLAH. Dengan memenuhi berbagai kebutuhannya dan menemaninya kapan saja ia membutuhkan.
Maka Allah SWT akan mencintai dan memilihmu, dan akan memasukkanmu ke dalam golongan para kekasih-Nya dan hamba-hamba-Nya yang Shaleh dengan keberkahan-Nya, Insya Allah.

GOLONGAN KEEMPAT, Adalah orang yang MEMILIKI LISAN DAN HATI. Yaitu ORANG YANG DIUNDANG KE ALAM MALAKUL Sebagai orang MULIA. Sebagaimana diterangkan dalam hadistz: " BARANGSIAPA YANG BELAJAR DAN MENGAMALKAN SERTA MENGAJARKANNYA, akan di undang ke Malakul sebagai Orang yang Mulia." Dialah orang yang memahami Allah SWT dan tanda-tanda-Nya. Allah SWT menganugerahkan keajaiban Ilmu-Nya dalam hati hamba-Nya tersebut, memberikan kemudahan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tidak diketahui oleh hamba-Nya yang lain. Allah SWT telah memilih dan mengangkatnya, Allah SWT telah menunjukkan jalan untuk dekat kepada-Nya, dan telah melapangkan dadanya untuk menerima rahasia-rahasia yang tersembunyi dan berbagai macam Ilmu, dan menjadikannya ORANG YANG PAHAM MANA YANG BAIK DAN MANA YANG BURUK serta MENJADI PENYERU KEBAIKAN BAGI HAMBA ALLAH SWT, PEMBERI PERINGATAN BAGI MEREKA, MENJADI HUJJAH BAGI MEREKA, PEMBERI PETUNJUK DAN MENDAPATKAN PETUNJUK, PEMBERI SYAFAAT DAN MENDAPATKAN SYAFAAT, YANG BENAR DIBENARKAN DAN MEMBENARKAN, SEBAGAI PENERUS PARA RASUL DAN NABI-NYA-Semoga Allah SWT mencurahkan keselamatan, barakah, dan salam-Nya kepada mereka.

INILAH TUJUAN TERAKHIR BANI ADAM...., TIDAK ADA KEDUDUKAN DI ATAS KEDUDUKAN INI KECUALI KENABIAN. Oleh karena itu engkau mesti meraihnya, dan janganlah engkau menyalahi orang seperti dia, janganlah engkau menjauhinya dan janganlah engkau tidak menerimanya. Merujuklah pada ucapan dan nasihatnya, karena keselamatan ada pada apa yang dikatakannya dan ada di pihaknya, dan kebinasaan serta kesesatan ada pada yang lain, kecuali orang diberi taufiq dan hidayah oleh Allah SWT, maka Dia akan memberikan dukungan-Nya dengan kebenaran dan rahmat.

Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita semua, kepada yang dicintai dan diridhoi-Nya, baik di dunia maupun di akhirat, dengan rahmat-Nya.





Mari MENUNTUT ILMU, BERBISNIS DAN BERDAKWAH, bersama :
http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Mari BEMAIN INTERNET, BERBISNIS, SAMBIL BERSEDEKAH, bersama :
http;//www.income-syariah.com/?id=Mitra.Syariah

Kamis, 24 Maret 2011

JANGANLAH KENIKMATAN MEMBUAT KITA LALAI DARI SANG PEMBERI NIKMAT


SYAIKH 'ABDUL QADIR JAILANI R.A BERKATA...

Seandainya Allah SWT memberimu harta kekayaan, lalu engkau sibuk dengan harta itu dan lupa dari taat kepada-Nya, maka dengan harta itu engkau akan TERHIJAB dari-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan mungkin Dia akan menggelincirkanmu, menjatuhkanmu, dan menjadikanmu fakir sebagai siksaan bagimu karena kesibukanmu dengan nikmat dan lupa pada Sang Pemberi Nikmat.

Jika engkau sibuk dengan ketaatan kepada-Nya dibanding harta yang diberikan-Nya kepadamu, maka Dia akan menjadikan harta itu sebagai anugerah bagimu, dan Dia tidak akan mengurangi harta itu sedikitpun. Harta itu akan menjadi pelayanmu dan engkau akan menjadi pelayan Allah Yang Mahatinggi. Engkau hidup didunia dengan mapan, dan di akhirat nanti dimuliakan, di surga yang tinggi bersama orang-orang yang benar, para syuhada' dan orang-orang yang shalih.





Sumber: http://www.MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Mari Berbisnis Sekaligus Beramal,
KLIK --> http://www.income-syariah.com/?id=Mitra.Syariah

Rabu, 16 Maret 2011

AL-QUR'AN DAN ILMU SIDIK JARI


Saya mendengar bahwa Al-Qur'an telah berbicara mengenai ilmu sidik jari dan kaitannya dengan pribadi seseorang. Apakah itu benar ?

Pada permulaan surah al-Qiyamah, Allah SWT berfirman,
" Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri. Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-tulang-nya? Bukan demikian, sebenarnya kami kuasa menyusun kembali jari-jemarinya ( banan ) dengan sempurna. "

Yang dimaksud dengan jari-jemari ( banan ) disini ialah permukaan ujung jari-jemari yang sangatlah kecil dan rumit. Mengapa Allah SWT memilih jari-jemari dan berbicara mengenai penciptaan dan susunannya, adalah-untuk-sebagai bukti akan kekuasaan Allah SWT untuk mengembalikan manusia kepada penciptaanya semula setelah kematiannya ? Mengapa Allah SWT tidak memilih anggota tubuh yang lain yang lebih besar untuk membicarakan hal ini ?

Rahasia yang terkandung dibalik itu adalah bahwa pada susunan jari-jemari terdapat rahasia Illahi yang mengagumkan. Karena, garis-garis jari-jemari setiap orang berbeda, tidak akan didapatkan dua orang manusia yang mempunyai garis-garis jari-jemari yang sama. Akhir-akhir ini para Ilmuwan telah mengetahui bahwa garis-garis tersebut tidak akan berubah untuk selamanya, dan akan tetap sebagaimana semula hingga akhir hidup seseorang. Walaupun garis-garis jari-jemari (sidik jari) tersebut berkembang dan membesar sejalan dengan pertumbuhan badan seseorang.

Berabad-abad manusia tidak menyadari keajaiban ini didalam penciptaan manusia. Sehingga akhirnya pada tahun 1884 Masehi para Ilmuwan di Inggris menemukan cara untuk mengenal orang melalui garis-garis yang terdapat pada jari-jemarinya.
Dari sinilah maka dikenal dengan Ilmu Sidik Jari dan kaitannya dengan pengenalan data pribadi seseorang. Ilmu ini kemudian semakin berkembang hari demi hari. Kemudian negara-negara didunia menjadikan sidik jari sebagai pegangan mereka untuk menetapkan seseorang pelaku kejahatan atau tindak kriminal. Walaupun merupakan sesuatu yang kecil dan rumit, namun ini merupakan bukti akan kecanggihan dan ketelitian ciptaan Allh SWT.

Dengan begitu, Zat yang mampu menciptakan berjuta-juta jari-jemari diseluruh dunia, dimana masing-masing jari-jemari seseorang pasti berbeda dengan yang lainnya, dapat dipastikan bahwa Zat Pencipta tersebut tentunya dapat mengembalikan manusia yang telah mati dan kemudian membangkitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

" Sesungguhnya urusan-Nya ialah jika Dia menghendaki sesuatu maka cukup Dia mengatakan jadilah, maka sesuatu itupun jadi." (QS. Yasin: 82)

Maha Suci Allah Sebagus-bagusnya pencipta.




Sumber: Buku YAS'ALUNAKA Dr. Ahmad asy-Syarbashi.

Bersama Berbagi Ilmu,Berbisnis, dan Berdakwah
Klik : http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Bersama http://www.income-syariah.com/?id=Mitra.Syariah
Bersama Berbisnis dan Berbagi

Selasa, 08 Maret 2011

COBAAN MENCERAHKAN RUH DAN MENYADARKAN HATI


SYEIKH 'ABDUL QADIR JAILANI R.A BERKATA :
Jika seorang hamba sedang diuji dengan suatu cobaan, pertama-tama ia akan berusaha mengatasinya sediri. Jika tidak mampu ia akan meminta pertolongan kepada makhluk Allah yang lain : kepada penguasa, pejabat, budak dunia, atau kepada dokter. Dan jika masih tetap tidak bisa, baru ia akan kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla, berdoa dengan rendah hati, bahkan menangis. Selama mampu mengatasinya sendiri, ia tidak akan kembali kepada Allah SWT, atau selama cobaannya bisa teratasi dengan bantuan sesamanya, ia akan tetap lupa kepada Sang Pencipta. Namun, jika masih belum mendapatkan bantuan dari Sang Pencipta, ia akan bersimpuh dihadapan-Nya, berdoa dan menangis penuh rasa takut dan harap. Lalu, Dia Yang Maha Kuasa membuatnya lemah dalam doa, tidak mengabulkannya hingga dia terputus dari semua sebab. Dalam keadaan seperti ini, kekuatan mulai masuk kepadanya.

Sang hambapun mengalami fana' dari semua sebab dan gerakan, tinggallah ruh. Tidak ada yang tampak selain Tindakan Al-Haqq'Azza wa Jalla. Maka timbullah keyakinan dalam dirinya... BAHWA PADA HAKIKATNYA, TIDAK ADA PELAKU SELAIN ALLAH 'AZZA WA JALLA. TIDAK ADA YANG DAPAT MENGGERAKKAN DAN MENDIAMKAN KECUALI ALLAH. HANYA ALLAH YANG MENGUASAI KEBAIKAN DAN KEBURUKAN, MANFAAT DAN MUDARAT, PEMBERIAN DAN PENOLAKAN, PEMBUKA DAN PENUTUP, KEMATIAN DAN KEHIDUPAN, KEMULIAAN DAN KEHINAAN, JUGA KEKAYAAN DAN KEFAKIRAN. Dan dihadapan-Nya, iapun seperti bayi ditangan ibunya, seperti mayat ditangan orang yang memandikannya, laksana bola di tongkat seorang pemain.

Dirinya tak berdaya dibolak-balik, diubah dan diperlakukan oleh tuannya. Ia tidak bisa bergerak dengan sendirinya maupun menggerakkan yang lain. Ia lenyap dari dirinya dalam tindakan Sang Tuan. Ia tidak melihat selain melihat Sang Tuan dan tindakan-Nya, tidak pula mendengar dan berpikir selain Dia.

Jika ia melihat, kepada Penciptanya ia melihat...
Jika ia mendengar dan mengetahui, kepada kalam-Nya ia mendengar, dan dengan ilmu-Nya ia mengetahui...
Hanya nikmat-Nya yang ia rasakan...
Hanya kedekatan dengan-Nya yang membuatnya nyaman dan mulia...
Ia bahagia dan tenang dengan janji-Nya...
Hingga dia terasing dari selain-Nya...
Ia belindung kepada-Nya dalam dzikir dan munajat...
Hanya kepada-Nya ia merasa yakin dan bertawakal...
Dengan cahaya ma'rifah-Nya ia mendapat petunjuk mengenakan jubah dan serban...
Dengan Ilmu yang diberikan-Nya ia mengetahui berbagai misteri, dan ia menjadi mulia dengan rahasia-rahasia kekuasaan-Nya...

Hanya yang datang dari Allah 'Azza wa Jalla yang didengar dan diterimanya. Lalu atas semua itu ... ia memuji, bersyukur, dan berdoa.





Sumber: http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Rabu, 09 Februari 2011

Bukti Islam Benar : Kehadiran Teknologi Abad 21 Sudah Dibicarakan Nabi Muhammad di Abad 7

Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh

Nabi Muhammad .صلى الله عليه وسلم, sebagaimana kita semua tahu, hidup empat belas abad yang lampau. Catatan-catatan sejarah memperlihatkan bahwa, tatkala al-Qur’an diwahyukan, masyarakat Arab tidak memiliki teknologi yang memungkinkan mereka untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang dunia ini atau alam semesta. Dengan demikian, terdapat suatu perbedaan yang signifikan antara tingkat sains dan teknologi pada waktu itu, tatkala Nabi Muhammad masih hidup, dengan zaman kita. Sesungguhnya, perbedaan ini terus berjalan pada awal mula abad ke-20 dan ke-21. Sebuah bukti yang gamblang tentang ini adalah bahwa segelintir penemuan teknologi yang namanya tak dapat disebutkan hanya beberapa dekade yang lalu telah menjadi unsur-unsur yang sangat dibutuhkan pada kehidupan kita saat ini.

Meskipun adanya perbedaan-perbedaan yang sangat banyak ini, pada abad ke-7, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلمh memberitahukan sejumlah kebenaran mengenai masa depan. Dalam halaman-halaman berikut, kita akan menelaah hadis-hadis yang menggambarkan tingkat pengetahuan ilmiah dan teknologi Akhir Zaman. Kita akan melihat bahwa apa yang dibicarakan oleh Nabi Muhammad empat belas abad yang lalu sedang menjadi kenyataan pada zaman kita.


Teknologi Kedokteran:

Pada saat itu … usia hidup akan makin bertambah panjang.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazha
Empat belas abad telah berlalu semenjak Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyampaikan kata-kata ini. Catatan-catatan yang tersimpan mengenai beberapa tahun terakhir ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa rata-rata harapan hidup pada zaman kita jauh lebih besar daripada pada setiap awal abad sebelumnya. Bahkan, sudah ada suatu perbedaan yang besar sekali antara awal dan akhir abad ke-20. Misalnya, seseorang yang lahir pada tahun 1995 dapat berharap untuk hidup lebih lama 35 tahun daripada seseorang yang lahir pada tahun 1900.

Sebuah contoh lain yang mencolok tentang hal ini adalah, pada masa lalu, jarang orang yang berusia hingga 100 tahun; pada hari ini banyak orang yang mencapai usia tersebut.

Menurut United Nations Department of National Population, selama beberapa tahun terakhir ini, populasi dunia terus mengalami transisi yang luar biasa dari suatu tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi ke tingkat kelahiran dan kematian yang rendah. Substansi dari transisi ini adalah pertumbuhan dalam jumlah dan proporsi orang-orang yang lebih tua. Peningkatan yang cepat, besar, dan amat bisa dirasakan ini tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah peradaban.

Meningkatnya harapan hidup ini tentunya memiliki suatu sebab. Kemajuan layanan kesehatan yang merupakan konsekuensi dari kemajuan teknologi kedokteran telah memungkinkan situasi yang demikian. Di samping itu, perkembangan perkembangan dalam ilmu genetika dan pesatnya kemajuan Proyek Gen Manusia (Human Genome Project) segera mengawali lahirnya sebuah era yang sama sekali baru di bidang kesehatan. Kemajuan-kemajuan ini merupakan proporsi yang oleh orang-orang yang hidup pada masa-masa terdahulu tak pernah terbayangkan. Berdasarkan pada semua perkembangan ini, kita dapat mengatakan bahwa orang-orang yang hidup pada zaman kita telah mencapai hidup yang panjang dan sehat seperti digambarkan dalam hadis di atas.

1400 tahun silam Nabi صلى الله عليه وسلم telah membicarakan kemajuan-kemajuan dibidang sains yang disebutkan diatas.

Pendidikan:


Sebuah perbedaan signifikan yang membedakan abad ke20 dan ke-21 dengan abad-abad sebelumnya adalah majunya kemampuan baca tulis. Pada masa-masa yang lebih awal, kemampuan baca tulis hanya dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki status istimewa, sedangkan, menjelang akhir abad ke-20, UNESCO dan organisasi-organisasi pemerintah dan swasta lainnya, telah menyelenggarakan kampanye-kampanye di seantero dunia untuk melawan kecenderungan ini. Mobilisasi sumber-sumber daya pendidikan ini, dengan bantuan penemuan-penemuan teknologi dan layanan-layanan kemanusiaan, telah membuahkan hasil pada zaman kita. Menurut sebuah laporan dari UNESCO, rata-rata tingkat kemampuan baca tulis pada tahun 1997 adalah 77,4%.21

Angka ini tentu saja adalah yang tertinggi dalam 14 abad. Pada saat yang sama, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menggambarkan masyarakat pada Akhir Zaman dalam hadis beliau:
Kemampuan baca tulis akan meningkat — tatkala Pengadilan semakin dekat.
(Ahmad Dhiya’ ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits)

Melalui media proyek-proyek dapat terwujud dengan teknologi baru, taraf kemampuan baca-tulis sekarang ini meningkat pada angka rata-rata 80%.
Waktu dimana kita hidup di dalamnya, dengan bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi, dan perlombaan dalam mengembangkan teknologi bangunan gedung, telah diungkapkan dalam hadis 14 abad yang lalu.

Teknologi Konstruksi:


Suatu tanda kemajuan teknologi pada abad di mana kita hidup dan, yang mana Nabi Muhammadصلى الله عليه وسلم telah menyebutkannya adalah dibangunnya gedung-gedung yang tinggi.
Tidak akan ada [Hari] Pengadilan — hingga gedung-gedung yang sangat tinggi dibangun.
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
As-Sa‘ah (Hari Kiamat) tidak akan tiba hingga manusia berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.
(HR. Bukhari)

Bila kita tilik sejarah arsitektur dan teknik, kita lihat bahwa gedung-gedung berlantai banyak mulai dibangun hanya menjelang akhir abad ke-19. Perkembangan-perkembangan teknologi, meningkatnya penggunaan baja dan lift mempercepat laju pembangunan struktur-struktur yang disebut pencakar langit. Pencakar langit telah menjadi sebuah bagian penting dari arsitektur abad ke-20 dan ke-21, dan pada hari ini telah menjadi sebuah lambang prestise. Apa yang dikatakan oleh hadis tadi telah menjadi kenyataan: manusia memang telah berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung tinggi, dan bangsa-bangsa pun saling berlomba-lomba dalam membangun pencakar langit tertinggi.

Teknologi Transportasi:

Di sepanjang sejarah sudah ada suatu hubungan langsung antara kekayaan dan kekuatan rakyatnya dengan teknologi transportasinya. Masyarakat-masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengadakan sistem transportasi yang efektif dapat meningkatkan taraf kemajuan mereka.

Berbicara tentang karakteristik-karakteristik Akhir Zaman, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda mengenai perkembangan transportasi:

Hari Akhir tidak akan tiba hingga ... waktu berjalan dengan cepatnya.(HR. Bukhari)
Jarak-jarak yang sangat jauh akan dilintasi dengan waktu singkat.(H.r. Ahmad, Musnad)

Pesan dari hadis di atas cukup jelas. Pada Akhir Zaman, jarak-jarak yang sangat jauh akan ditempuh dalam waktu yang singkat oleh kendaraan-kendaraan baru. Pada zaman kita, pesawat terbang supersonik, kereta api dan kendaraan-kendaraan canggih lainnya dapat, dalam sekian jam saja, melintasi jarak yang dulunya ditempuh selama berbulan-bulan, dan melakukannya dengan lebih mudah, nyaman, dan aman. Dalam hal ini, isyarat yang diriwayatkan dalam hadis tadi telah menjadi kenyataan.

Pada abad ke-20 dan 21, teknologi benar-benar telah sampai pada tingkat yang canggih. Khususnya di bidang teknologi transportasi, arsitektur, dan bidang-bidang permesinan, perkembangan-perkembangan yang menakjubkan telah tercapai.

Al-Qur’an menyebutkan kendaraan-kendaraan yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi modern:

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan(menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.s. an-Nahl: 8).


Di sini, kita dapat memikirkan dengan mendalam makna ungkapan “waktu akan berjalan dengan cepat” dalam hadis pertama, dari sudut pandang apa yang telah kami ceritakan. Jelaslah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pada waktu Akhir Zaman, tugas-tugas akan dirampungkan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan kurun-kurun waktu lainnya. Sungguh, kemajuan-kemajuan dalam sains telah memungkinkan adanya peluang bagi hampir semua hal untuk diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat dan dengan hasil yang jauh lebih baik. Sebuah hadis serupa menguatkan pandangan ini:

Saat Akhir tidak akan tiba sebelum waktu menyusut, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan nyala lilin.
(HR. Tirmizi)

Misalnya, berabad-abad yang lalu, komunikasi internasional, yang lamanya sampai berminggu-minggu, kini dapat ditempuh dalam hitungan detik saja dengan menggunakan Internet dan teknologi komunikasi modern lainnya. Pada masa lalu, barang-barang yang dulunya sampai ke tujuan setelah menempuh perjalanan selama berbulan-bulan dalam kafilah-kafilah, kini dapat dikirim dengan cepat. Pada hari ini, jutaan buku dapat diterbitkan dalam waktu yang beberapa abad yang lalu hanya dapat untuk menghasilkan satu buah buku saja. Hal-hal sehari-hari sudah begitu saja menjadi hal yang lazim, seperti kebersihan, cara-cara penyajian makanan, dan keperluan untuk perawatan anak-anak, sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu berkat adanya keajaiban-keajaiban teknologi modern.

Kita dengan mudah dapat memberikan sekian banyak contoh seperti itu. Akan tetapi, yang harus kita pikirkan dengan mendalam di sini adalah tanda-tanda yang diberitahukan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pada abad ke-7 dulu yang kini sedang menjadi kenyataan.

Tanda lainnya lagi dari Akhir Zaman yang diberitahukan dalam hadis-hadis adalah tersebar luasnya perdagangan (Diriwayatkan oleh Ibnu Masud raddiallahu'anhum.)
yang seiring dengan kemajuan-kemajuan di bidang transportasi. Transportasi-transportasi modern telah memungkinkan tiap negeri di dunia ini untuk melakukan hubungan perdagangan yang erat dengan negeri-negeri lainnya.

Teknologi Komunikasi:

Sebagian dari informasi paling menarik yang diberitakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم terdapat dalam hadis beliau yang menggambarkan teknologi komunikasi di masa modern. Salah satu hal yang beliau katakan cukup mencengangkan:

Hari Akhir tak akan tiba sebelum seseorang berbicara dengan gagang cambuknya.
(HR. Tirmizi)


Bila kita lihat hadis ini dengan lebih dekat lagi, kita dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, pada zaman dulu, cambuk dipakai secara luas untuk menaiki hewan-hewan tunggangan, khususnya onta dan kuda. Manakala kita telaah hadis ini kita pun melihat bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sedang membuat sebuah perbandingan.

Mari kita tanyakan kepada orang-orang pada zaman sekarang: “Benda berbicara apa yang dapat kita perbandingkan dengan bentuk sebuah cambuk?” Jawaban yang paling mendekati atas pertanyaan ini adalah sebuah telepon genggam atau suatu perangkat komunikasi lainnya yang serupa itu. Bila kita ingat-ingat, perangkat komunikasi nirkabel, seperti telepon genggam atau telepon satelit, adalah perkembangan yang baru-baru ini terjadi, maka kita akan paham betapa futuristiknya gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم 14 abad yang lalu. Maka, ini adalah satu lagi pemberitahuan akan waktu sebelum Hari Pengadilan di mana kita hidup di dalamnya.

Teknologi, yang dapat menyampaikan atau memindahkan suara dan gambar dalam jarak ribuan kilometer dengan begitu gampang dan menakjubkan, menunjukkan kesamaan yang amat menarik dengan pesan yang disebutkan di dalam hadis.

Dalam riwayat lainnya dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beliau menyoroti perkembangan teknologi komunikasi:

Tak ada Hari Pengadilan ... hingga seseorang berbicara dengan suaranya sendiri.
(Mukhtashar Tadzkirah karya Qurthubi)

Pesan dalam hadis ini sudah cukup jelas: ia menyatakan bahwa seseorang mendengar suaranya sendiri merupakan sebuah karakteristik Akhir Zaman. Tentu saja, bagi seseorang agar dapat mendengar suaranya sendiri, pertama-tama suara itu harus direkam dan kemudian didengarkan. Teknologi rekaman dan reproduksi suara adalah produk-produk dari abad ke-20. Perkembangan ini merupakan titik balik dari kemajuan sains, salah satunya yang memungkinkan lahirnya industri-industri yang bergerak di bidang komunikasi dan media. Rekaman suara kini sudah mencapai titik puncaknya, dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam komputer dan teknologi laser.

Pendeknya, perangkat-perangkat elektronik pada hari ini, seperti mikrofon dan pengeras suara, telah memungkinkan untuk merekam dan mendengar suara seseorang, yang menunjukkan bahwa apa yang disebutkan dalam hadis di atas kepada kita telah menjadi kenyataan.

Apa yang dikatakan dalam hadis-hadis yang menggambarkan Akhir Zaman mengenai teknologi komunikasi tidak terbatas pada hadis yang dikutip di atas saja. Masih ada tandatanda lain yang sangat menarik dalam hadis-hadis lainnya:

Tanda hari itu: Sebuah tangan akan menjulur dari langit, dan orang-orang akan menyaksikannya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)


Melalui sarana satelit, segala macam siaran dapat dikirim secara langsung ke tujuan. Fakta bahwa Nabi Muhammad pernah memprediksikan perihal kemampuan seperti ini 1.400 tahun yang lalu adalah salah satu tanda yang lain.

Tanda hari itu adalah sebuah tangan menjulur di langit dan orang-orang pun berhenti untuk melihatnya.
(Al-Muttaqi al-Hindi, ‘Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Jelaslah bahwa kata “tangan” dalam hadis di atas merupakan kiasan. Pada zaman dahulu, sebuah tangan yang dijulurkan dari langit dan orang-orang menyaksikannya, sebagaimana tersebut dalam hadis tadi barangkali tidak begitu berarti bagi mereka. Namun bila kita mempertimbangkan teknologi pada hari ini, pernyataan tadi dapat ditafsirkan dengan sejumlah cara. Misalnya, televisi, yang kini sudah menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari dunia ini, dan ia, beserta dengan kamera dan komputer, dapat menjelaskan dengan sangat baik apa yang digambarkan oleh hadis tadi. Kata “tangan” yang disebut dalam hadis itu mungkin saja dipakai untuk mengiaskan kekuasaan. Bisa dipakai untuk menyebut gambar-gambar yang muncul dari langit dalam bentuk gelombang, yaitu, televisi.

Beberapa contoh lain yang relevan juga sangat menarik:

Suatu suara yang memanggil namanya … dan bahkan orang-orang di timur dan barat akan mendengarnya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)

Suara ini akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan setiap suku bangsa akan mendengarnya dalam bahasa mereka.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)


Sebuah suara dari langit yang mana setiap orang akan mendengarnya dalam bahasa mereka sendiri-sendiri.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Hadis ini menyebutkan sebuah suara yang akan terdengar ke seluruh penjuru dunia dan dalam bahasa setiap orang masing-masing. Jelaslah, yang dimaksud adalah radio, televisi, dan metode-metode komunikasi lainnya yang semacam itu. Adalah sebuah keajaiban bahwa, 1.400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم memberi isyarat suatu perkembangan yang bahkan tak terbayangkan pada seratus tahun yang lalu.

Tatkala Badiuzzaman Said Nursi menafsirkan hadis-hadis ini, beliau menerangkan bahwa hadis-hadis ini secara menakjubkan meramalkan kemunculan radio, televisi, dan perang-kat-perangkat komunikasi lainnya yang semacam itu.



Mari Bershalawat Untuk Beliau :

Allahumma Shali Ala Muhammad wa ala alihi wabarrik wassalam



Di kutip dari:Kembang Anggrek

Selasa, 08 Februari 2011

CATATAN BUKU SEORANG KYAI (SURPRISE dari ALLAH SWT)


Kisah perjalanan batin seorang ulama, melalui doa, rasa kecewa, takut, marah, khawatir, hingga mendapatkan hidayah, bahwa putri bungsunya yang progressive/agresive ternyata tetap dalam lindungan dan Jalannya Allah S.W.T.

Medan, 15 Juni 1975

Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan dengan janji Allah dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan'adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur...

1981 Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain.

1987 Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan...Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat kakakmu yang kalem dan cendrung memilik sifat-sifat perempuan, engkaujustru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.

Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku.

Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak...

1993 Tahun ini engkau menamatkan SMAmu. Engaku tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota Kopassus datang mencarimu.

Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam...

Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami.

Dalam doa-doa malamku selalu kebermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu?

Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu...Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu,putriku..

Dan aku akan lebih bisa menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu.

1995 Tahun ini tidak akan pernah kulupan. Akan kucatat baik-baik...Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah S.W.T mendengar dan mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah! Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997 Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang mendiami rumah ini.

Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.

Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu....

Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku...

1998 Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku...

Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yangengkau pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku...

1 Agustus 1999

Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.

Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka.

Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku.

Jika aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku. Putriku....kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu...Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku...

Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu.

Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren...

Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku...

Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin.

12 Agustus 1999

Rabbi, jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya Engkau..ya Mujib...

------0000-----

“Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar ...

Dalam dinding keterbatasan itu saya merasakan kedamaian”.

Semoga apa yang telah saya sampaikan ini ada manfaatnya,

Bila ada salah kata mohon dimaafkan yang benar itu pasti datangnya dari Allah S.W.T Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh




Dari : Shobat FB q Ahmad Suwarno

Selasa, 01 Februari 2011

AKU HANYALAH SEORANG HAMBA


Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.
Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan')
'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia."

"Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"
Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?".
Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.
Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ?
Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".

Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah" kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?

Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?"

Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib".
"Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?"
"Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi.

Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"

Penjabaran peringatan itu dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dengan sabdanya,

"Tidak ada sesuatu yang dipenuhkan oleh putra putri Adam lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga sisanya untuk pernafasannya (Diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi).

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?"
Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.




Dari : Sahabat FB q Ahmad Suwarno

Cintai Allah

Cintailah Allah Cintailah Allah Cintailah Allah

Mencintai Allah pasti mencintai Rasulullah.

Mencintai Rasulullah pasti mencintai Allah.

Karena Rasulullah sangat mencintai Allah dan Allah sangat mencintai Rasulullah.

Rasulullah sangat taat dan patuh kepada Allah.

Tingkah laku adalah pancaran dari Qolbu.

Qolbu dan tingkah laku Rasulullah adalah Al Qur’an, dan Al Qur’an adalah firman Allah / tuntunan Allah terhadap hambaNya.

Bila seseorang mencintai yang dicintai, pasti dia akan taat, patuh dan mencontoh yang dicintai.

Maka taat, patuh dan contoh tingkah laku Rasulullah, berarti taat dan patuh kepada Alloh, dan pasti dicintai Allah dan Rosulullah.

Jangan menduakan cinta Alloh, karena Allah Maha Pencemburu (laa ilaaha illallah)

Jangan menduakan cinta Allah, Walaupun itu kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu, Keluargamu, saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.

Tapi berikan kasih sayang sebesar besarnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah (Al Qur’an & Al hadist) kepada Ibumu, Bapakmu, dirimu, Suamimu, Istrimu, Anakmu , saudaramu, hartamu, kedudukanmu, muslimin/muslimat dan seluruh makhluk.

Segera minta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada Rasulullah, bila ada kesalahan didalam qolbu dan tingkah laku dikehidupan sehari hari. Dan segera memperbaiki kembali apa yang kita lakukan.

Mudahlah mengakui kesalahan dan minta maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau di cintai Allah.

Mudahlah memberi maaf kepada seluruh mahluk Allah sehingga engkau mudah diampuni segala kesalahan oleh Allah.

Selalu ingat memuji Allah dan Rasullullah (shalawat) sehingga engkau selalu diingat dipuji oleh Allah dan Rasulullah.

Selalu minta tolong Allah dan bersyafa’at kepada Rasulullah dalam segala hal.

Pancarkanlah asma/nama Allah (asmaul husna), af’al Allah dan sifat Allah dengan Qolbu dan tingkah laku di kehidupanmu.

Semoga engkau dicintai oleh Allah dan Rosullullah.





Sumber: Tasawuf Noto Ati Noto Ati
Nurut Marang Gusti Allah lan Nurut Marang Sabdaning Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Minggu, 23 Januari 2011

Cinta Allah cinta Rasulullah cinta ulama satu yang tak terpisahkan

Bagaimana bisa kita tahu caranya mencintai Allah SWT tanpa menuntut ilmu dari Rasulullah. Dan bagaimana kita tahu caranya Rasulullah mencintai Allah SWT tanpa kita menuntut ilmu kepada Para Ulama. Sebab itu tuntutlah ilmu dari Para Ulama dengan sabar dan sopan santun.
Dekatilah Para Ulama yang mencintai Allah SWT dan Rasululloh, cintai mereka lebih dari dirimu sendiri. Barang siapa mencintai Para Ulama Allah pasti akan mencontoh tingkah lakunya, yang berarti juga mencontoh tingkah laku Rasulullah.

Jadi itulah mengapa mencintai Allah sama dengan mencintai Rasulullah, mencintai Rasulullah sama dengan mencintai Para Ulama Allah SWT, dan begitu sebaliknya. Allah SWT, Rasulullah, Para Ulama Allah adalah satu yang tak terpisahkan karena satu tujuan yaitu Ar Rohmaan Ar Rohiim (kasih sayang) terhadap seluruh mahluk. Dan bentuk kasih sayang terhadap umat manusia dengan memberi petunjuk kebenaran hakiki yaitu mencintai Allah dengan cara takdim/menuruti segala perintah dan larangan Allah SWT, dengan tanpa alasan apalagi bantahan tapi dengan tulus ikhlas sopan santun.
Ciri khas Para Ulama Allah adalah ulama yang selalu mengingatkan umat manusia kepada Allah SWT yaitu takdim terhadap perintah dan laranganNya. Karena dengan begitu hidup didunia dan akhirat jadi selamat menyenangkan seperti hidup beribu ribu tahun.

Karena sudah banyak contoh manusia disekitar kita yang tidak pernah ingat Allah SWT walaupun mereka sering sholat dan sering berdzikir yang hanya untuk menyelesaikan kewajiban tanpa hadirnya hati dalam ibadah kehidupannya, apalagi yang tidak melakukannya. Hidup mereka menjadi susah dan ruwet walaupun mereka itu kaya maupun miskin.
Itu sesungguhnya ruh dirinya sedih susah dan sakit karena tidak dekat sama Allah, sebab sering tertipu oleh akal dan nafsunya. Sebab akal dan nafsunya sering tertipu oleh syaitan, karena akalnya tanpa ilmu dan nafsunya yang tak terkendali.

Wahai Sang Penuntut Ilmu, takdimlah terhadap perintah dan larangan Allah SWT(menurut tanpa alasan, bantahan tapi tulus ikhlas sopan santun)seperti yang dituntunkan Para Ulama Allah, Rasulullah dan Allah SWT. Itulah cara satu satunya dan pamungkas mencintai Allah, Rasulullah, Para Ulama Allah tiada jalan lain.

Cintailah Allah SWT cintailah Rasululloh cintailah Para Ulama Allah pasti akan mencintai dengan hakiki (kebenaran) terhadap dirimu, leluhurmu, keluaragamu, keturunanmu, bangsamu, negerimu, dan seluruh mahluk.




Sumber :Tasawuf Noto Ati
( http://tasawufnotoati.wordpress.com/ )

Sabtu, 22 Januari 2011

TATA CARA DAN TATA KRAMA BERDOA

Semua pekerjaan memiliki tata cara. Pekerjaan yang dilakukan
dengan mematuhi tata cara yang benar, pasti akan memberikan hasil
terbaik. Sebaliknya, jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan
asal-asalan, tidak menggunakan tata cara yang benar, maka
hasilnyapun akan asal-asalan.

Demikian juga dalam berdoa. Agar doa kita lebih maqbul, kita
harus menggunakan tata cara berdoa yang benar sesuai petunjuk
Allah dan Rasulnya sbb:

1.Membaca basmalah

2.Memuji Allah
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya" (An Nashr:3). Dalam ayat ini, Allah memberikan
petunjuk agar kita memuji-Nya sebelum menyampaikan maksud doa
yang kita panjatkan. Memuji Allah ialah dengan mungucapkan
"Alhamdu lillaahi robbil aalamiin" (segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam).

3.Bershalawat untuk Nabi
Dari Annas bin Malik: “Tidaklah seseorang berdoa, kecuali antara
dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada nabi”.
Jadi, bershalawat kepada Nabi sangat penting untuk membuka hijab
(tirai) doa sampai pada Allah azza wa jalla.
Bershalawat atas Nabi adalah membaca "Allahumma sholli ala sayyi-
dinaa Muhammad"

4.Membaca asmaul husna
"Dan Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah dengan menyebut
asmaa-ul husna itu"(QS Al Araf : 180).
Contoh membaca asmaul husna dalam berdoa:
- Ya Allah, ya RAHMAN
- Ya GHOFUR... ampunilah kami
- Robbanaa innaka anta SAMIIUL 'ALIIM

5.Menyebutkan maksud yang diminta
Point ke-5 ini adalah inti dari doa (permintaan) kita

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Mendekatkan diri kepada Allah
- Berdoa dengan sungguh-sungguh dan optimis
- Tidak bosan berdoa sampai doa terkabul
- Pada tempat & waktu mustajabah
- Lebih baik menggunakan redaksi doa yang ada dalam Qur'an/ hadits
- Berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan
- Sabar & tawakkal

Dalam meminta sesuatu kepada manusia, tentu perlu menggunakan
tata cara dan tata krama yang benar dan sopan, bukan? Coba kita
bayangkan seandainya tiba-tiba ada orang mendatangi kita, dan
langsung meminta sesuatu dengan cara yang tidak sopan, bagaimana
perasaan kita?

Nah, jika kita berdoa (meminta) kepada Allah langsung to the
point ke-5 (langsung menyebut maksud yang diminta), maka berarti
kita sama sekali tidak menggunakan tata cara dan tata krama dalam
berdoa. Mungkin inilah sebab mengapa doa-doa kita selama ini
tidak terkabul.



Sumber :Ladang Ilmu, Bisnis dan Dakwah
http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Rabu, 05 Januari 2011

IKHTIAR (BERUSAHA) DULU, TAWAKKAL KEMUDIAN

Bicara tentang Ikhtiar dan Tawakkal, marilah kita jujur mengukur diri bagaimana cara Ikhtiar dan Tawakkal kita selama ini. Sudahkah kita pastikan bahwah kita telah berikhtiar semaximal mungkin untuk mencapai yang kita inginkan dan mewujudkan Tawakkal yang seharusnya ?
Kita pasti pernah mendengar sebuah riwayat tentang seorang sahabat Nabi SAW yang salah paham dalam "Mentawakkali" untanya. Saat sahabat Nabi SAW turun dari untanya, dia langsung meninggalkan untanya begitu saja. Ketika berjumpa dengan Nabi SAW, sang sahabatpun bertanya kepada beliau, " Wahai Nabi,apakah aku lepaskan untaku dan(lalu) aku bertawakkal? ", Nabipun bersabda , " Ikatlah dan kemudian bertawakkallah kepada Allah ". Mengetahui riwayat tersebut maka jelaslah sudah Rosulullah SAW membenarkan arti Tawakkal adalah pada mereka yang telah " Mengikat Untanya " atau TELAH BERUSAHA yang mau meneteskan keringat karena pekerjaannya.
Sering kita mendengar kata-kata yang berkaitan dengan Tawakkal,contoh kata-kata itu adalah " ya pasrah,Tawakkal saja ". Sebagian dari yang mengatakan Tawakkal ada yang benar-benar diikuti dengan perilaku yang mencerminkan dia siap menerima apapun hasil yang diperolehnya, wajah mereka tetap terlihat gembira, tidak susah, tetap optimis dan bersemangat jalani aktifitasnya, meski keberhasilan belum sepenuhnya didapatkannya. Namum sebagian individu lain, Tawakkal yang dikatakan hanya sekedar ungkapan belaka, tidak dibarengi dengan prilaku yang benar atau ternyata tidaklah siap menerima apapun hasil yang diperolehnya. Individu tersebut terlihat terbebani, raut wajahnya kaku, sedih bercampur kegusaran yang teramatkan, kecewa, sehingga dihinggapi kemurungan dan strees. Pengakuan hanyalah pengakuan,bisa jadi itu fakta atau mengada-ada, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang ada didalam diri setiap hamba-hamba-Nya.

Perjalanan hidup kita tidak pernah lepas dari "Ikhtiar dan Tawakkal" itulah bentuk kejujuran kita kepada sunnatullah kehidupan. Melakukan usaha demi mencapai hasil yang diinginkan adalah sudah "ketetapan" dalam kehidupan yang sudah dibuat Allah SWT dan sudah menjadi ketentuan-Nya hingga berakhirnya dunia.Memaknai Ikhtiar dalam kaitannya denga Tawakkal, sebagai orang beriman kita dapat melihat "Usaha/ikhtiar" dalam dua konteks:

1. Usaha merupakan syarat untuk menuju keberhasilan.
2. Usaha merupakan perintah Allah SWT yang kalau kita melaksanakannya dengan niat karena Allah SWT berarti kita mendapat balasan pahala dari Allah SWT.

Rosulullah SAW adalah insan mulia yang paling dicintai oleh Allah SWT dan beliau adalah yang paling mengenal Allah SWT. Beliau tahu betul bahwa takdir Allah SWT tak akan luput kepada apapun dan siapapun. Bahkan kalau mau, beliau sangat bisa untuk tidak melakukan Usaha apapun mengingat status beliau sebagai utusan Allah SWT yang diberi banyak Mukjizat. Salah satunya Mukjizat Rosulullah SAW adalah beliau bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi. Dalam kwalitas Tawakkal yang tak tertandingi,beliau masik melakukan yang namanya USAHA atau IKHTIAR. Rosulullah sepertinya ingin mengajarkan tentang hakikatnya suatu USAHA, dimana USAHA/IKHTIAR itu lebih dari sekedar jalan menuju keberhasilan, melainkan juga sebuah ketaatan dalam mengikuti Sunnatullah (aturan) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, kita yang jelas-jelas tidak memiliki Mukjizat "bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi" harusnya lebih banyak untuk berusaha/berikhtiar dalam mencapai masa depan yang kita inginkan. Allah SWT berfirman dalam (QS. At-Taubah:105) : " Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) Yang Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan ".

*Kita Bekerja,untuk mendekatkan kita pada hasil yang diinginkan...
*Kita Bekerja, karena tiap inchi gerakan yang kita lakukan pasti disaksikan Allah SWT...
*Kita Bekerja, karena dengan pekerjaan kita itu, kelah Allah akan memberitahukan hasil yang kita kerjakan.
Dan jika kita orang yang beriman, tentu tahu bahwa maksud "hasil" itu tak hanya didunia melainkan juga untuk akhirat.

Ketidakmaximalan suatu usaha/ikhtiar paling banyak disebabkan karena ketiadaan atau kurangnya Ilmu yang dimiliki.
Tidak bisa dikatakan sempurna sebuah ikhtiar yang tidak dilandasi dengan ilmu, betapa ilmu sangat penting dalam ikhtiar yang kita lakukan. Bahkan kedudukan ilmu mengalahkan kekuatan fisik yang identik dengan kerja keras. Mari kita lihat disekeliling kita, seperti keluarga yang sukses, keluarga yang tentram, anak yang santun, kedudukan-kedudukan suatu profesi, banyak yang dilatarbelakangi oleh individu yang memiliki ilmu.
Sedangkan sebaik-baik ilmu adalah segala apa yang ada didalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "dan ikutilah apa YANG DIWAHYUKAN Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan BERTAWAKKALLAH kepada Allah SWT. Dan cukuplah Allah SWT sebagai pemelihara ".(QS. Al-Ahzab 2:3)

Menurut Imam Al-Ghozali, untuk Tawakkal yang sempurna kepada Allah yaitu kita harus Yakinkan dalam hati 4 keyakinan :
1. Tawakkal karena yakin Allah SWT adalah yang Maha Menyelesaikan masalah.
2. Tawakkal karena yakin Allah SWT pemilik sebenar-benarnya kekuatan.
3. Tawakkal karena yakin Allah SWT yang kehendak-Nya tak akan terhalangi oleh siapapun.
4. Tawakkal karena yakin Allah SWT Dzat yang Maha Penyayang, yang berkenan membuka pintu pertolongan kepada setiap hamba yang datang kepada-Nya.
Bersama dengan itu kita cari ilmu-ilmu yang lain, dari manapun dan dari siapapun asal baik untuk diri kita. Karena pada dasarnya semua ilmu didunia ini datangnya atas izin dan kehendak Allah SWT. Bila usaha/ikhtiar telah dilandasi kerja keras dan ilmu, maka Insya Allah Tawakkal kita akan meyakinkan.
Wallahu A'lam Bisshowab,




Sumber > http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
LADANG ILMU, BISNIS DAN DAKWAH