Minggu, 23 Januari 2011

Cinta Allah cinta Rasulullah cinta ulama satu yang tak terpisahkan

Bagaimana bisa kita tahu caranya mencintai Allah SWT tanpa menuntut ilmu dari Rasulullah. Dan bagaimana kita tahu caranya Rasulullah mencintai Allah SWT tanpa kita menuntut ilmu kepada Para Ulama. Sebab itu tuntutlah ilmu dari Para Ulama dengan sabar dan sopan santun.
Dekatilah Para Ulama yang mencintai Allah SWT dan Rasululloh, cintai mereka lebih dari dirimu sendiri. Barang siapa mencintai Para Ulama Allah pasti akan mencontoh tingkah lakunya, yang berarti juga mencontoh tingkah laku Rasulullah.

Jadi itulah mengapa mencintai Allah sama dengan mencintai Rasulullah, mencintai Rasulullah sama dengan mencintai Para Ulama Allah SWT, dan begitu sebaliknya. Allah SWT, Rasulullah, Para Ulama Allah adalah satu yang tak terpisahkan karena satu tujuan yaitu Ar Rohmaan Ar Rohiim (kasih sayang) terhadap seluruh mahluk. Dan bentuk kasih sayang terhadap umat manusia dengan memberi petunjuk kebenaran hakiki yaitu mencintai Allah dengan cara takdim/menuruti segala perintah dan larangan Allah SWT, dengan tanpa alasan apalagi bantahan tapi dengan tulus ikhlas sopan santun.
Ciri khas Para Ulama Allah adalah ulama yang selalu mengingatkan umat manusia kepada Allah SWT yaitu takdim terhadap perintah dan laranganNya. Karena dengan begitu hidup didunia dan akhirat jadi selamat menyenangkan seperti hidup beribu ribu tahun.

Karena sudah banyak contoh manusia disekitar kita yang tidak pernah ingat Allah SWT walaupun mereka sering sholat dan sering berdzikir yang hanya untuk menyelesaikan kewajiban tanpa hadirnya hati dalam ibadah kehidupannya, apalagi yang tidak melakukannya. Hidup mereka menjadi susah dan ruwet walaupun mereka itu kaya maupun miskin.
Itu sesungguhnya ruh dirinya sedih susah dan sakit karena tidak dekat sama Allah, sebab sering tertipu oleh akal dan nafsunya. Sebab akal dan nafsunya sering tertipu oleh syaitan, karena akalnya tanpa ilmu dan nafsunya yang tak terkendali.

Wahai Sang Penuntut Ilmu, takdimlah terhadap perintah dan larangan Allah SWT(menurut tanpa alasan, bantahan tapi tulus ikhlas sopan santun)seperti yang dituntunkan Para Ulama Allah, Rasulullah dan Allah SWT. Itulah cara satu satunya dan pamungkas mencintai Allah, Rasulullah, Para Ulama Allah tiada jalan lain.

Cintailah Allah SWT cintailah Rasululloh cintailah Para Ulama Allah pasti akan mencintai dengan hakiki (kebenaran) terhadap dirimu, leluhurmu, keluaragamu, keturunanmu, bangsamu, negerimu, dan seluruh mahluk.




Sumber :Tasawuf Noto Ati
( http://tasawufnotoati.wordpress.com/ )

Sabtu, 22 Januari 2011

TATA CARA DAN TATA KRAMA BERDOA

Semua pekerjaan memiliki tata cara. Pekerjaan yang dilakukan
dengan mematuhi tata cara yang benar, pasti akan memberikan hasil
terbaik. Sebaliknya, jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan
asal-asalan, tidak menggunakan tata cara yang benar, maka
hasilnyapun akan asal-asalan.

Demikian juga dalam berdoa. Agar doa kita lebih maqbul, kita
harus menggunakan tata cara berdoa yang benar sesuai petunjuk
Allah dan Rasulnya sbb:

1.Membaca basmalah

2.Memuji Allah
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya" (An Nashr:3). Dalam ayat ini, Allah memberikan
petunjuk agar kita memuji-Nya sebelum menyampaikan maksud doa
yang kita panjatkan. Memuji Allah ialah dengan mungucapkan
"Alhamdu lillaahi robbil aalamiin" (segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam).

3.Bershalawat untuk Nabi
Dari Annas bin Malik: “Tidaklah seseorang berdoa, kecuali antara
dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada nabi”.
Jadi, bershalawat kepada Nabi sangat penting untuk membuka hijab
(tirai) doa sampai pada Allah azza wa jalla.
Bershalawat atas Nabi adalah membaca "Allahumma sholli ala sayyi-
dinaa Muhammad"

4.Membaca asmaul husna
"Dan Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah dengan menyebut
asmaa-ul husna itu"(QS Al Araf : 180).
Contoh membaca asmaul husna dalam berdoa:
- Ya Allah, ya RAHMAN
- Ya GHOFUR... ampunilah kami
- Robbanaa innaka anta SAMIIUL 'ALIIM

5.Menyebutkan maksud yang diminta
Point ke-5 ini adalah inti dari doa (permintaan) kita

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Mendekatkan diri kepada Allah
- Berdoa dengan sungguh-sungguh dan optimis
- Tidak bosan berdoa sampai doa terkabul
- Pada tempat & waktu mustajabah
- Lebih baik menggunakan redaksi doa yang ada dalam Qur'an/ hadits
- Berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan
- Sabar & tawakkal

Dalam meminta sesuatu kepada manusia, tentu perlu menggunakan
tata cara dan tata krama yang benar dan sopan, bukan? Coba kita
bayangkan seandainya tiba-tiba ada orang mendatangi kita, dan
langsung meminta sesuatu dengan cara yang tidak sopan, bagaimana
perasaan kita?

Nah, jika kita berdoa (meminta) kepada Allah langsung to the
point ke-5 (langsung menyebut maksud yang diminta), maka berarti
kita sama sekali tidak menggunakan tata cara dan tata krama dalam
berdoa. Mungkin inilah sebab mengapa doa-doa kita selama ini
tidak terkabul.



Sumber :Ladang Ilmu, Bisnis dan Dakwah
http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Rabu, 05 Januari 2011

IKHTIAR (BERUSAHA) DULU, TAWAKKAL KEMUDIAN

Bicara tentang Ikhtiar dan Tawakkal, marilah kita jujur mengukur diri bagaimana cara Ikhtiar dan Tawakkal kita selama ini. Sudahkah kita pastikan bahwah kita telah berikhtiar semaximal mungkin untuk mencapai yang kita inginkan dan mewujudkan Tawakkal yang seharusnya ?
Kita pasti pernah mendengar sebuah riwayat tentang seorang sahabat Nabi SAW yang salah paham dalam "Mentawakkali" untanya. Saat sahabat Nabi SAW turun dari untanya, dia langsung meninggalkan untanya begitu saja. Ketika berjumpa dengan Nabi SAW, sang sahabatpun bertanya kepada beliau, " Wahai Nabi,apakah aku lepaskan untaku dan(lalu) aku bertawakkal? ", Nabipun bersabda , " Ikatlah dan kemudian bertawakkallah kepada Allah ". Mengetahui riwayat tersebut maka jelaslah sudah Rosulullah SAW membenarkan arti Tawakkal adalah pada mereka yang telah " Mengikat Untanya " atau TELAH BERUSAHA yang mau meneteskan keringat karena pekerjaannya.
Sering kita mendengar kata-kata yang berkaitan dengan Tawakkal,contoh kata-kata itu adalah " ya pasrah,Tawakkal saja ". Sebagian dari yang mengatakan Tawakkal ada yang benar-benar diikuti dengan perilaku yang mencerminkan dia siap menerima apapun hasil yang diperolehnya, wajah mereka tetap terlihat gembira, tidak susah, tetap optimis dan bersemangat jalani aktifitasnya, meski keberhasilan belum sepenuhnya didapatkannya. Namum sebagian individu lain, Tawakkal yang dikatakan hanya sekedar ungkapan belaka, tidak dibarengi dengan prilaku yang benar atau ternyata tidaklah siap menerima apapun hasil yang diperolehnya. Individu tersebut terlihat terbebani, raut wajahnya kaku, sedih bercampur kegusaran yang teramatkan, kecewa, sehingga dihinggapi kemurungan dan strees. Pengakuan hanyalah pengakuan,bisa jadi itu fakta atau mengada-ada, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang ada didalam diri setiap hamba-hamba-Nya.

Perjalanan hidup kita tidak pernah lepas dari "Ikhtiar dan Tawakkal" itulah bentuk kejujuran kita kepada sunnatullah kehidupan. Melakukan usaha demi mencapai hasil yang diinginkan adalah sudah "ketetapan" dalam kehidupan yang sudah dibuat Allah SWT dan sudah menjadi ketentuan-Nya hingga berakhirnya dunia.Memaknai Ikhtiar dalam kaitannya denga Tawakkal, sebagai orang beriman kita dapat melihat "Usaha/ikhtiar" dalam dua konteks:

1. Usaha merupakan syarat untuk menuju keberhasilan.
2. Usaha merupakan perintah Allah SWT yang kalau kita melaksanakannya dengan niat karena Allah SWT berarti kita mendapat balasan pahala dari Allah SWT.

Rosulullah SAW adalah insan mulia yang paling dicintai oleh Allah SWT dan beliau adalah yang paling mengenal Allah SWT. Beliau tahu betul bahwa takdir Allah SWT tak akan luput kepada apapun dan siapapun. Bahkan kalau mau, beliau sangat bisa untuk tidak melakukan Usaha apapun mengingat status beliau sebagai utusan Allah SWT yang diberi banyak Mukjizat. Salah satunya Mukjizat Rosulullah SAW adalah beliau bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi. Dalam kwalitas Tawakkal yang tak tertandingi,beliau masik melakukan yang namanya USAHA atau IKHTIAR. Rosulullah sepertinya ingin mengajarkan tentang hakikatnya suatu USAHA, dimana USAHA/IKHTIAR itu lebih dari sekedar jalan menuju keberhasilan, melainkan juga sebuah ketaatan dalam mengikuti Sunnatullah (aturan) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, kita yang jelas-jelas tidak memiliki Mukjizat "bisa melihat peristiwa yang akan datang atau yang bakal terjadi" harusnya lebih banyak untuk berusaha/berikhtiar dalam mencapai masa depan yang kita inginkan. Allah SWT berfirman dalam (QS. At-Taubah:105) : " Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) Yang Mengetahui akan yang Ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan ".

*Kita Bekerja,untuk mendekatkan kita pada hasil yang diinginkan...
*Kita Bekerja, karena tiap inchi gerakan yang kita lakukan pasti disaksikan Allah SWT...
*Kita Bekerja, karena dengan pekerjaan kita itu, kelah Allah akan memberitahukan hasil yang kita kerjakan.
Dan jika kita orang yang beriman, tentu tahu bahwa maksud "hasil" itu tak hanya didunia melainkan juga untuk akhirat.

Ketidakmaximalan suatu usaha/ikhtiar paling banyak disebabkan karena ketiadaan atau kurangnya Ilmu yang dimiliki.
Tidak bisa dikatakan sempurna sebuah ikhtiar yang tidak dilandasi dengan ilmu, betapa ilmu sangat penting dalam ikhtiar yang kita lakukan. Bahkan kedudukan ilmu mengalahkan kekuatan fisik yang identik dengan kerja keras. Mari kita lihat disekeliling kita, seperti keluarga yang sukses, keluarga yang tentram, anak yang santun, kedudukan-kedudukan suatu profesi, banyak yang dilatarbelakangi oleh individu yang memiliki ilmu.
Sedangkan sebaik-baik ilmu adalah segala apa yang ada didalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "dan ikutilah apa YANG DIWAHYUKAN Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan BERTAWAKKALLAH kepada Allah SWT. Dan cukuplah Allah SWT sebagai pemelihara ".(QS. Al-Ahzab 2:3)

Menurut Imam Al-Ghozali, untuk Tawakkal yang sempurna kepada Allah yaitu kita harus Yakinkan dalam hati 4 keyakinan :
1. Tawakkal karena yakin Allah SWT adalah yang Maha Menyelesaikan masalah.
2. Tawakkal karena yakin Allah SWT pemilik sebenar-benarnya kekuatan.
3. Tawakkal karena yakin Allah SWT yang kehendak-Nya tak akan terhalangi oleh siapapun.
4. Tawakkal karena yakin Allah SWT Dzat yang Maha Penyayang, yang berkenan membuka pintu pertolongan kepada setiap hamba yang datang kepada-Nya.
Bersama dengan itu kita cari ilmu-ilmu yang lain, dari manapun dan dari siapapun asal baik untuk diri kita. Karena pada dasarnya semua ilmu didunia ini datangnya atas izin dan kehendak Allah SWT. Bila usaha/ikhtiar telah dilandasi kerja keras dan ilmu, maka Insya Allah Tawakkal kita akan meyakinkan.
Wallahu A'lam Bisshowab,




Sumber > http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
LADANG ILMU, BISNIS DAN DAKWAH

Rabu, 29 Desember 2010

POLA PIKIR jadi Pebisnis Online yang SUKSES

Saya ingin Berbagi tentang Betapa pentingnya Setting
Pola Pikir (Mindset) kita sebelum menjalankan Bisnis
Online.

Kebanyakan orang gagal menjalankan Bisnis Online karena pola pikirnya
(Mindset) terlalu terburu-buru. Banyak yg pengen serba instan dapat
duit dari internet, sehingga yg dilakukan hakikatnya bukan Bisnis online
yg sebenarnya.

Banyak yg terjebak pada informasi salah di internet, sehingga sudah
terlanjur mengeluarkan dana, namun tidak ada hasilnya. Saya dulu juga
melakukan kesalahan Mindset tersebut, mengeluarkan sejumlah dana namun
tidak menghasilkan.

Karenanya Saya pengen sharing sama shobat-shobatku semua
agar tidak melakukan kesalahan dalam pola pikir menjalankan Bisnis Online.

Berdasarkan pengalaman Saya, Setting Pola Pikir Pebisnis Online Sukses
adalah :

1. Bisnis Online tetaplah bisnis. Kita mesti memperlakukan Bisnis
Online layaknya kita sedang membangun sebuah Bisnis Besar. Untuk itu
diperlukan proses kerja bertahap agar Bisnis Online kita menjadi besar
(bukan instan).

2. Jika kita terbiasa menerima gaji tetap dari status karyawan/pegawai,
maka di bisnis online kita harus terbiasa menerima kenyataan belum
berpenghasilan (jika salah dalam berbisnis) atau berpenghasilan kecil
hingga besar sekali (tergantung kerja kita). simpelnya Bisnis Online
itu ada peluang untung dan ruginya.

3. Jika sebagai karyawan/pegawai kita biasa kerja diatur atasan dan
ada aturan main masuk kantor, maka di Bisnis Online tidak ada orang
yg mengatur kita.
Kitalah Bossnya...!!! Ya, kitalah Bos bagi diri sendiri!!!
Kita bebas mau menentukan berapa jam kerja sehari dan mau
kerja dari mana saja (asal ada sambungan internetnya).
Masalah Hasil besar atau kecil, kita lah yg harus
bertanggung jawab. Karena sekali lagi kita lah Bozz-nya...!!!

4. Berhubung tidak ada yg mengawasi kita kerja, maka
perlu disusun rencana pribadi untuk memilih program Bisnis mana yg
akan ditekuni. Kita perlu Fokus dulu pada salah satu
Program bisnis di internet. Saking banyaknya sumber Penghasilan di
internet (ada ribuan kali), maka pilihlah 1 atau 2 program dulu
untuk ditekuni dengan fokus.

Ingat ; Untuk Berhasil di Bisnis Online, kita tidak perlu menguasai
semua bidang!

Cukup tekuni 1 atau 2 program, konsisten belajar dan praktek, dan
lihat hasilnya beberapa waktu kemudian. Jika itu yg kita
lakukan, nanti akan tersenyum sendiri melihat kenyataan ternyata
internet memang bisa menghasilkan uang!!!

Jika ada kesulitan teknis dalam memulai, itu bukan masalah! Itu
namanya tahap pembelajaran. Teruskan saja karena itu bisa dipelajari
sambil jalan!
Yang penting kita belajar dan praktek saja secara
konsisten, Insya Allah nanti kita akan bisa BERHASIL dan SUKSES.

Sumber : Bisnisdavid.com




Bisnis Online Dan Online Dengan Reward Gratis Jalan2 Ke LN, Gratis Mobil CRV-BMW dan Cash Award Jutaan Rupiah : < KLIK DISINI >

Minggu, 19 Desember 2010

Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas

Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun saudaraku, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah.

Ketika engkau tersenyum terhadap saudaramu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudaraku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti dan akhwat sekalian, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai saudaraku ?

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)

Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti dan akhwat sekalian, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap pasanganmu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.

Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim).


By : Mahabbatullah

Bersama Berbagi Ilmu, Berbisnis, dan Berdakwah
Klik : http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry

Jumat, 17 Desember 2010

TERDAPAT KEBAHAGIAAN DALAM BERBAGI

Seorang ibu-ibu yang telah lanjut usia tepatnya seorang nenek, tertatih-tatih mencari ruang disela-sela jamaah yang telah membentuk shaf dalam shalat Maghrib,rupanya beliau sudah tidak kebagian shaf yang paling depan. Padahal dengan kondisi shaf yang agak regang tersebut dengan saling bergeser sedikit saja seharusnya sang nenek bisa mendapatkan shaf paling depan.... Namun itu semua tidak terjadi. Padahal Rosululloh SAW telah memerintahkan kita untuk meluruskan dan merapatkan barisan (shaf).

"Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benarlah meluruskan shaf kalian ( jika tidak ) maka Allah akan ( menimbulkan perselisihan ) diantara wajah-wajah kalian." ( HR. Muslim dan Ahmad )

Wajah sang nenek menengok kekanan dan kekiri melongok kesana dan kemari, dengan terlihat cemas, sedih juga gundah mengetahui shaf bagian depan yang diinginkannya terlihat penuh. Saya yang berada dibarisan paling depan tanpa sengaja melihat keadaan seperti itu, saya perhatikan orang-orang yang berada satu barisan dengan saya tak ada yang mau perduli dengan kesulitan sang nenek ini, masing-masing sibuk dengan persiapan "ibadahnya sendiri".

Teregerak hati dan keibahan saya melihat kesulitan yang dialami sang nenek,saya menghampiri beliau dan menarik tanganya masuk kedalam shaf seraya dengan menggeser badan saya sedikit kesamping merapat ke jamaah di sebelah saya, barulah tedapat ruang yang cukup untuk sang nenek berada dideretan shaf terdepan.

Kerut-kerut wajah sang nenekpun terpancar suatu kelegahan dan kegembiraan,untuk beberapa saat beliau memandangi saya,senyumnya berkali-kali mengembang dibibir. Bahkan saya merasakan itu adalah senyum yang paling tulus dan paling indah yang pernah saya lihat. Terbersit dalam hati ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sang nenek... saya juga merasa senang bisa membantu sang nenek.

Rasa bahagia itu terasa terus mengalir dalam hati saya, apa yang terjadi sebenarnya adalah sesuatu yang sangat remeh, ringan dan spontan saja.Terpikir dibenak saya ternyata TERDAPAT KEBAHAGIAAN DALAM BERBAGI.....meskipun itu dalam urusan yang sangat remeh, ringan sekalipun.

Semoga kita semua bisa menyadari dan belajar lebih banyak lagi tentang BERBAGI kepada saudara-saudara kita khususnya bagi yang lebih membutuhkan, sekalipun kita mulai dari ha-hal yang paling kecil. Tingkatan tertinggi dalam hubungan persaudaraan sesama muslim adalah dengan MENDAHULUKAN KEBUTUHAN MEREKA DAN MERINGANKAN KESULITAN MEREKA.
Wallahu A'lam Bisshowab.......



by : AISYAH MUTIARA BISNIS
Klik: http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry
BERSAMA BERBAGI ILMU, BERDAKWAH DAN BERBISNIS.

Kamis, 09 Desember 2010

METAMORFOSIS KEHIDUPAN

By: AISYAH MUTIARA BISNIS
Bersama Berbagi Ilmu,Berbisnis, dan Berdakwah
Klik : http://MutiaraSempurna.com/?id=Merry


Metamorfosis Kehidupan adalah Proses Perubahan Dalam Kehidupan.Setiap manusia, hari ini, esok dan lusa tetap berada dalam proses perubahan. Pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Seiring dengan pertumbuhan manusia yang dibesarkan, di didik oleh orang tua juga lingkungan yang memiliki otoritas memproses suatu perubahan dalam dirinya hingga dia memiliki suatu sifat baik ataupun buruk. Keinginan MENJADI LEBIH BAIK, menjadi ORANG YANG BERMANFAAT, BERPRESTASI, MENYENANGKAN, KOKOH dengan IMAN adalah KEINGINAN DARI SETIAP INDIVIDU yang memiliki JIWA BESAR. Sedangkan individu yang memiliki JIWA KECIL tidak pernah memikirkan MANFAAT UNTUK ORANG LAIN, bahkan dirinya sendiri, ataupun dia hanya berfikir untuk dirinya sendiri. Para Individu yang memiliki VISI yang JELAS, SEMANGAT yang KUAT, KEINGINAN yang BESAR, dan CITA-CITA yang TINGGIlah yang akan memenangkan perubahan itu.
Untuk menjadi LEBIH BAIK kita memerlukan PERUBAHAN dalam kehidupan kita. Yang menghadapkan kita pada suatu TANTANGAN yang besar dan memaksa kita untuk berusaha dengan kerja keras guna melewati tantangan tersebut. Semakin besar hambatan dan rintangan yang kita hadapi maka akan semakin besar nilai yang akan kita raih.DAYA TAHAN terhadap perubahan itu mempengaruhi tingkat keberhasilan kita. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk hadapi tantangan itu dengan senyum dan keyakinan yang tinggi, optimalkan kemampuan yang kita miliki untuk bisa memenangkannya. Berusaha tidak mengeluh disaat kita jatuh, Berusaha tidak menjerit disaat kita sakit. Apabila keadaan memaksa kita untuk meminta bantuan orang lain, carilah orang yang benar-benar ikhlas membantu kita menuju tangga-tangga kebaikan bukan keburukan yang akan memperparah kesalahan ataupun kelalaian kita.



Kita pasti mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, jangan lihat kebelakang tapi tetaplah kedepan boleh sesekali melihat kebelakang untuk intropeksi juga agar bisa mawas diri.
Terakhir..., Sertailah USAHA kita untuk Memperbaiki diri bersama DO'A dan KEPASRAHAN YANG TINGGI kepada ALLAH SWT, karena sebagai manusia terbatas kemampuan kita dan hanya bisa berusaha. ALLAH SWT jualah yang menentukan akhir dari semua usaha kita.